Beo – Bulan Rajab sering disebut sebagai gerbang menuju bulan suci Ramadan. Di dalamnya terdapat berbagai momen istimewa yang dimanfaatkan umat Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Salah satu momen yang paling dinanti oleh banyak kalangan santri dan masyarakat umum adalah Jumat terakhir di bulan mulia ini.
Terdapat sebuah tradisi spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun, khususnya di kalangan ulama Hadhramaut dan pesantren di Nusantara. Tradisi tersebut dikenal sebagai amalan Jumat terakhir bulan Rajab.
Keyakinan yang berkembang menyebutkan bahwa siapa saja yang mengamalkan doa khusus pada waktu tersebut, niscaya rezekinya akan dicukupkan dan uang di tangannya tidak akan habis sepanjang tahun hingga Rajab berikutnya datang.
Meskipun terdengar sederhana, praktik ini memiliki dimensi spiritual mendalam. Bukan sekadar tentang materi, melainkan tentang membangun prasangka baik (husnuzan) kepada Allah SWT sebagai Maha Pemberi Rezeki. Ulasan berikut akan mengupas tuntas segala hal berkaitan dengan amalan ini, mulai dari tata cara, landasan dalil, hingga dampaknya bagi ketenangan jiwa.
Definisi dan Hakikat Amalan Jumat Terakhir Bulan Rajab
Secara spesifik, amalan Jumat terakhir bulan Rajab merujuk pada pembacaan zikir tertentu di antara dua khutbah Jumat. Momen ini dinilai sangat mustajab karena bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa (saat duduknya khatib di antara dua khutbah) di hari yang paling mulia (Sayyidul Ayyam) dan di bulan yang haram (dimuliakan).
Amalan ini bukanlah ibadah wajib, melainkan fadhailul a’mal atau keutamaan amal yang diijazahkan oleh para ulama salaf (terdahulu). Kitab Kanzun Najah was Surur karya Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Al-Qudsi, seorang ulama besar Masjidil Haram, menjadi salah satu rujukan utama yang mempopulerkan praktik ini.
Inti dari amalan ini adalah membaca dua nama mulia Nabi, yaitu “Ahmad” dan “Muhammad”, sebagai wasilah atau perantara untuk memohon keberkahan rezeki. Penggabungan nama nabi dengan sifat Rasulullah menegaskan pengakuan totalitas atas risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Pentingnya Menjaga Tradisi Ibadah di Akhir Rajab
Mengapa momen akhir Rajab begitu krusial? Rajab adalah bulan menanam. Jika seseorang ingin memanen pahala besar di bulan Ramadan, persiapan harus dimulai sejak Rajab. Jumat terakhir menjadi penanda bahwa bulan Sya’ban—bulan penyiraman—sudah di depan mata.
Menjaga amalan di waktu-waktu penghujung seperti ini melatih konsistensi ibadah. Banyak orang bersemangat di awal bulan namun kendor di akhir. Melakukan amalan Jumat terakhir bulan Rajab menjadi simbol istiqamah, menjaga semangat ibadah tetap menyala sebelum memasuki fase intensif di bulan Sya’ban dan Ramadan.
Selain itu, dalam konteks modern yang penuh ketidakpastian ekonomi, amalan ini menjadi jangkar spiritual. Manusia diajak untuk kembali menyandarkan harapan semata-mata kepada Allah, bukan pada kekuatan logika atau usaha manusiawi semata.
Tata Cara Pelaksanaan Amalan
Agar mendapatkan keutamaan yang diharapkan, pelaksanaannya harus mengikuti adab dan ketentuan yang telah digariskan oleh para ulama. Berikut adalah detail pelaksanaannya:
1. Waktu Pelaksanaan
Waktu paling utama adalah saat khatib sedang duduk di antara dua khutbah pada pelaksanaan salat Jumat terakhir di bulan Rajab. Momen ini sangat singkat, sehingga memerlukan konsentrasi dan kesiapan.
2. Bacaan Zikir
Lafaz yang dibaca adalah: “Ahmad RasuluLlah, Muhammad RasuluLlah” (Ahmad adalah Utusan Allah, Muhammad adalah Utusan Allah)
3. Jumlah Bilangan
Zikir tersebut dibaca sebanyak 35 kali.
4. Teknis Pelaksanaan
Mengingat waktu duduk khatib sangat singkat (biasanya hanya cukup untuk membaca surat Al-Ikhlas), pembacaan zikir ini harus dilakukan dengan agak cepat namun tetap menjaga makhraj huruf (fasih). Disarankan tidak menggunakan suara keras agar tidak mengganggu jamaah lain atau mendahului suara khatib saat memulai khutbah kedua.
5. Bagi Wanita atau Musafir
Bagi kaum wanita yang tidak melaksanakan salat Jumat, atau musafir yang tidak sempat berjamaah Jumat, sebagian ulama memperbolehkan membacanya setelah masuk waktu Zuhur atau menjelang sore hari Jumat tersebut. Namun, keutamaan terbesar tetap ada pada momen di antara dua khutbah bagi mereka yang menghadirinya.
Manfaat dan Keutamaan Spiritual
Melakukan amalan ini membawa dampak positif yang berlapis, baik secara psikologis maupun spiritual:
- Kecukupan Rezeki: Sesuai dengan fatwa dan pengalaman para sholihin (orang-orang saleh), manfaat utamanya adalah keberkahan harta. Uang yang dimiliki akan terasa cukup untuk memenuhi kebutuhan, terhindar dari pemborosan, dan selalu ada jalan untuk kebutuhan mendesak.
- Ketenangan Batin: Menyerahkan urusan rezeki kepada Allah melalui wasilah nama Nabi memberikan ketenangan (sakinah). Kecemasan akan masa depan finansial berkurang drastis.
- Mahabbah (Kecintaan) pada Nabi: Menyebut nama “Ahmad” dan “Muhammad” sebanyak 35 kali memperbarui rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Ini adalah bentuk taqarrub (pendekatan diri) melalui pintu kenabian.
- Menghidupkan Sunnah Berdoa: Memanfaatkan waktu mustajab di hari Jumat melatih kepekaan seorang hamba terhadap waktu-waktu istimewa yang disediakan Allah.
Tantangan dan Kesalahpahaman Umum
Setiap praktik keagamaan yang populer sering kali diiringi dengan tantangan pemahaman. Penting untuk meluruskan beberapa hal agar amalan Jumat terakhir bulan Rajab ini tidak jatuh pada perilaku yang salah.
Risiko Menganggap Sebagai Syariat Wajib
Tantangan terbesar adalah anggapan bahwa ini adalah syariat yang wajib dilakukan. Perlu dipahami bahwa ini adalah amalan mujarrab (teruji berdasarkan pengalaman ulama), bukan hadis Nabi yang berstatus mutawatir atau shahih dalam kutubus sittah (enam kitab hadis utama). Posisinya adalah sebagai fadilah amal, bukan rukun agama.
Jebakan “Transactional Worship”
Ada risiko seseorang beribadah hanya karena ingin uang. Jika niatnya murni transaksional (“Saya baca ini supaya kaya”), nilai ibadahnya bisa berkurang. Niat harus tetap lillahi ta’ala, memohon keberkahan, sementara rezeki adalah bonus dari Allah SWT.
Gangguan Saat Khutbah
Secara fikih, mendengarkan khutbah adalah wajib. Jika saking asyiknya berzikir hingga khatib sudah memulai khutbah kedua dan jamaah masih sibuk berkomat-kamit, hal ini bisa menjadi makruh atau bahkan melalaikan kewajiban mendengarkan khutbah. Oleh karena itu, manajemen waktu saat jeda khutbah sangat krusial.
Fakta Menarik Seputar Tradisi Ini
Dibalik popularitasnya, terdapat fakta-fakta unik yang jarang diketahui publik:
- Penggunaan Nama “Ahmad”: Mengapa tidak hanya Muhammad? Nama “Ahmad” adalah nama Nabi di langit dan disebutkan dalam kitab-kitab samawi terdahulu (seperti yang diberitakan Nabi Isa AS). Penggunaan nama ini menyimbolkan pujian yang paling agung.
- Koneksi Nusantara-Yaman: Tradisi ini sangat kuat di Indonesia karena dibawa oleh para ulama Hadhramaut, Yaman, yang memiliki ikatan keilmuan erat dengan pesantren-pesantren tua di Jawa dan Melayu.
- Filosofi Angka 35: Belum ada penjelasan pasti (tauqifi) mengapa angkanya 35. Namun dalam ilmu hikmah, setiap angka memiliki sirr (rahasia) tersendiri yang berkaitan dengan keselarasan frekuensi doa.
- Viralitas Digital: Dalam lima tahun terakhir, amalan ini semakin populer berkat media sosial. Potongan video para habaib dan kiai yang menjelaskan amalan ini sering menjadi tren setiap akhir Rajab, menunjukkan kerinduan masyarakat urban akan amalan spiritual yang praktis.
Dampak dalam Kehidupan Sehari-hari
Menerapkan amalan ini ternyata memberikan efek domino yang positif dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Muslim:
Membangun Optimisme Ekonomi
Di tengah isu resesi atau kesulitan ekonomi, amalan ini menjadi “booster” mental. Masyarakat yang optimis bahwa rezekinya dijamin Allah akan lebih produktif dan tidak mudah putus asa dalam bekerja.
Mempererat Hubungan Jamaah
Saat momen Jumat terakhir Rajab, sering terlihat pemandangan unik di masjid-masjid. Para jamaah saling mengingatkan, “Jangan lupa baca Ahmad Rasulullah 35 kali nanti ya.” Ini menciptakan atmosfer saling mendukung dalam kebaikan (tawashi bil haq).
Peningkatan Literasi Agama
Rasa penasaran terhadap amalan ini mendorong orang untuk membuka kitab, bertanya pada ustaz, atau mencari artikel (seperti ulasan ini), yang pada akhirnya meningkatkan pemahaman mereka tentang bulan-bulan haram dalam Islam.
Tips Memaksimalkan Amalan Jumat Terakhir Rajab
Agar pelaksanaan berjalan lancar dan berkesan, beberapa rekomendasi berikut dapat diterapkan:
- Bawa Tasbih Kecil: Menghitung dengan jari bisa saja lupa hitungan karena terburu-buru. Membawa tasbih digital atau tasbih kecil sangat membantu ketepatan jumlah 35 kali.
- Datang Lebih Awal: Usahakan datang ke masjid sebelum khatib naik mimbar. Dapatkan posisi saf depan agar lebih fokus dan tidak terganggu hiruk-pikuk jamaah yang terlambat.
- Perbanyak Salawat Sebelumnya: Sebelum khatib naik mimbar, kondisikan hati dengan memperbanyak salawat. Ini seperti “pemanasan” spiritual agar saat momen doa tiba, hati sudah terkoneksi.
- Lengkapi dengan Sedekah: Sempurnakan ikhtiar langit ini dengan sedekah Jumat. Doa yang dibarengi dengan sedekah memiliki kekuatan menembus langit yang luar biasa.
- Jangan Lupa Berdoa untuk Umat: Setelah menyelesaikan zikir pribadi, sempatkan sedetik mendoakan kesejahteraan bagi seluruh umat Islam, terutama yang sedang dalam kesulitan ekonomi.
Perspektif Ulama Tentang Validitas Amalan
Kejujuran akademis sangat penting dalam membahas amalan ini. Seperti disebutkan dalam kitab Kanzun Najah was Surur, amalan ini dinukil dari fatwa Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi dan ulama-ulama besar lainnya.
Meskipun sebagian kalangan yang sangat tekstualis mungkin mempertanyakan ketiadaan hadis shahih secara spesifik (marfu’ sampai ke Nabi), mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah membolehkan pengamalan ini dalam koridor fadhailul a’mal.
Prinsipnya, selama isi bacaannya baik (menyebut nama Allah dan Rasul-Nya) dan tidak bertentangan dengan syariat, maka hal itu boleh diamalkan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ulama yang dikenal ketat pun mengakui adanya keberkahan dalam amalan-amalan yang telah terbukti (mujarrab) oleh orang-orang saleh, selama tidak diyakini sebagai wahyu baru.
Oleh karena itu, sikap yang bijak adalah menghormati. Bagi yang mengamalkan, lakukan dengan keyakinan penuh dan adab yang baik. Bagi yang tidak mengamalkan, tidak perlu mencela karena ini adalah ranah khilafiyah yang luas.
FAQ: Pertanyaan Seputar Amalan Jumat Terakhir Bulan Rajab
1. Apakah amalan ini termasuk bid’ah yang dilarang?
Dalam pandangan mayoritas ulama Aswaja, ini termasuk bid’ah hasanah (hal baru yang baik) atau fadhailul a’mal. Karena isinya adalah zikir dan tawasul yang memiliki dasar umum dalam agama, maka tidak dilarang, selama tidak meyakininya sebagai rukun salat Jumat.
2. Bagaimana jika khatib khutbahnya sangat cepat dan tidak sempat baca 35 kali?
Jika waktu duduk khatib sangat singkat, bacalah semampunya. Allah Maha Mengetahui niat hamba-Nya. Bisa juga disempurnakan jumlahnya segera setelah salat Jumat selesai, meskipun waktu utamanya (afdal) adalah saat jeda khutbah.
3. Bolehkah wanita yang sedang haid mengamalkan ini di rumah?
Boleh. Wanita haid atau yang tidak salat Jumat bisa membacanya saat masuk waktu Zuhur pada hari Jumat terakhir bulan Rajab. Niatkan untuk tabarruk (mengambil berkah) waktu mulia tersebut.
4. Apa arti filosofis dari penggabungan nama Ahmad dan Muhammad?
“Ahmad” bermakna “Yang Paling Terpuji” (sifat di langit/sisi Allah), sedangkan “Muhammad” bermakna “Yang Banyak Dipuji” (sifat di bumi/sisi makhluk). Menggabungkannya berarti mengakui kemuliaan Nabi secara totalitas di langit dan bumi sebagai pembuka pintu rahmat.
5. Apakah setelah mengamalkan ini pasti jadi kaya raya?
Rezeki tidak selalu berupa uang tunai yang melimpah. “Uang tak habis” bisa bermakna keberkahan: uang sedikit tapi cukup, terhindar dari penyakit mahal, atau barang-barang awet. Jangan membatasi kekuasaan Allah hanya pada nominal saldo bank.
Kesimpulan
Amalan Jumat terakhir bulan Rajab merupakan permata spiritual yang sayang untuk dilewatkan. Ia bukan sekadar ritual meminta harta, melainkan momentum untuk memperbaiki mindset ketergantungan manusia kepada Sang Pencipta.
Dengan melafalkan “Ahmad Rasulullah, Muhammad Rasulullah”, seorang hamba sedang mengetuk pintu langit melalui nama kekasih Allah yang paling mulia.
Rezeki yang lancar sepanjang tahun adalah buah dari pohon keimanan yang disiram dengan doa dan dipupuk dengan keyakinan. Di luar pro dan kontra yang ada, mengambil sisi positif untuk memperbanyak zikir di hari Jumat adalah langkah terpuji.
Menjelang Jumat terakhir Rajab tahun ini, persiapkan diri dengan baik. Bersihkan hati, luruskan niat, dan jemputlah keberkahan yang telah Allah sediakan. Semoga dengan wasilah amalan ini, kehidupan kita tidak hanya dipenuhi kecukupan materi, tetapi juga kekayaan hati yang sesungguhnya.