Beo – Bulan suci Ramadhan maupun ibadah puasa sunnah lainnya tidak akan lepas dari momen paling dinantikan saat adzan Maghrib berkumandang, yaitu waktu berbuka.
Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika membatalkan puasa adalah membaca doa buka puasa Dzahaba.
Bacaan doa ini memiliki dasar periwayatan hadits yang kuat dan berderajat shahih atau hasan, sehingga menjadi pilihan utama bagi umat Muslim yang ingin meneladani sunnah Nabi secara presisi dan tepat.
Memahami lafal Arab, tulisan Latin, serta makna mendalam dari terjemahannya akan menambah kekhusyukan, rasa syukur, dan kesempurnaan ibadah puasa yang telah dijalankan seharian penuh demi mengharap ridha Ilahi.
“Disclaimer: Informasi dalam bacaan berikut disediakan untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai fatwa mutlak. Umat Muslim disarankan melakukan verifikasi tambahan dengan merujuk pada kitab-kitab ulama terpercaya atau berkonsultasi dengan ustaz dan ahli ilmu agama untuk pendalaman fikih yang lebih komprehensif.”
Teks Doa Buka Puasa Dzahaba: Arab, Latin, dan Terjemahan
Mengetahui lafal yang benar sangat krusial dalam berdoa, terutama agar makna yang terucap sesuai dengan tuntunan aslinya. Lafal doa ini cukup singkat, mudah dihafal, namun memuat ungkapan rasa syukur yang luar biasa atas nikmat fisik maupun spiritual. Berikut adalah rincian teks lengkapnya:
Teks Arab: ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Teks Latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.
Arti Terjemahan: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, insya Allah.”
Makna dari doa tersebut sangat relevan dengan kondisi fisiologis dan psikologis orang yang berpuasa. Frasa pertama, dzahabaz zhama’u (telah hilang rasa haus), merepresentasikan kelegaan fisik seketika setelah air membasahi kerongkongan.
Frasa kedua, wabtallatil ‘uruqu (urat-urat telah basah), menggambarkan kembalinya kesegaran tubuh yang sempat melemah akibat dehidrasi selama belasan jam menahan dahaga.
Terakhir, wa tsabatal ajru insyaallah (pahala telah ditetapkan, insya Allah), merupakan sebuah afirmasi keyakinan sekaligus harapan besar bahwa rasa lapar dan haus tersebut tidak berujung sia-sia, melainkan berbuah pahala yang kekal di sisi Allah SWT.
Keutamaan dan Kedudukan Hadits Doa Dzahaba
Banyak umat Muslim menanyakan validitas dari doa ini mengingat adanya variasi bacaan doa berbuka yang beredar di masyarakat. Menelusuri sumber rujukan (sanad) adalah bagian penting dari tradisi keilmuan Islam.
Doa yang diawali dengan kata dzahaba ini diriwayatkan langsung oleh sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Dalam riwayat tersebut disebutkan: “Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berbuka puasa, beliau mengucapkan: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.”
Hadits ini tercatat dalam kitab Sunan Abu Dawud nomor 2357. Para ulama ahli hadits lintas generasi telah melakukan penelitian mendalam terhadap jalur perawinya. Imam Ad-Daruquthni menilai sanadnya hasan (baik).
Demikian pula dengan ahli hadits kontemporer seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang menshahihkan hadits tersebut dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud.
Dengan status hadits yang shahih atau setidaknya hasan, mengamalkan bacaan ini memberikan ketenangan hati karena terbukti bersumber langsung dari perbuatan lisan Rasulullah SAW.
Kapan Waktu yang Tepat Membaca Doa Ini?
Terdapat kekeliruan umum di tengah masyarakat mengenai kapan tepatnya doa berbuka diucapkan. Seringkali, doa dilafalkan sesaat sebelum azan Maghrib selesai berkumandang atau sebelum makanan dan minuman menyentuh mulut.
Jika ditelaah dari makna harfiah doa buka puasa Dzahaba, ungkapan “telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah” secara logis mensyaratkan bahwa seseorang harus minum atau makan terlebih dahulu. Oleh karena itu, para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan tata cara berbuka yang paling sesuai sunnah adalah sebagai berikut:
- Ketika azan Maghrib berkumandang, mulailah berbuka dengan mengucapkan Bismillah (Dengan menyebut nama Allah).
- Segera batalkan puasa dengan memakan buah kurma (diutamakan kurma basah/ruthab) atau meminum air putih.
- Setelah rasa haus hilang dan makanan/minuman tertelan, barulah membaca doa Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.
Tata cara ini selaras dengan makna kontekstual doa, di mana kalimat tersebut merupakan bentuk deklarasi rasa syukur setelah tubuh kembali mendapatkan asupan energi dan cairan.
Perbedaan Doa Dzahaba dengan Doa Allahumma Laka Shumtu
Di wilayah Nusantara, doa Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu jauh lebih populer dan banyak diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan sejak usia dini. Muncul pertanyaan mengenai mana yang lebih utama untuk diamalkan.
Doa Allahumma laka shumtu juga bersumber dari riwayat hadits, tepatnya riwayat Abu Dawud dari Mu’adz bin Zuhrah. Namun, mayoritas ulama pakar hadits menilai bahwa jalur periwayatan doa ini berstatus dhaif (lemah) secara sanad, meskipun maknanya sangat baik dan shahih secara tauhid.
Banyak ulama memberikan jalan tengah yang bijaksana. Mengingat derajat kekuatan hadits doa Dzahaba jauh lebih kuat (shahih/hasan), maka bacaan tersebut lebih diutamakan (afdhal) untuk menjadi amalan rutin.
Meski demikian, membaca Allahumma laka shumtu tetap diperbolehkan karena isinya memuat puji-pujian dan rasa syukur yang relevan dengan ibadah. Sebagian ulama bahkan membolehkan penggabungan kedua doa tersebut untuk mendapatkan keutamaan yang lebih komprehensif.
Adab dan Amalan Sunnah Saat Menjelang Maghrib
Menyempurnakan ibadah puasa tidak hanya sebatas membaca lafal doa yang benar. Terdapat serangkaian adab atau etika yang mengiringi momen berbuka, yang semuanya bertujuan mendulang pahala maksimal.
Menyegerakan Berbuka (Ta’jil)
Salah satu sunnah mutlak dalam puasa adalah menyegerakan berbuka sesaat setelah matahari dipastikan tenggelam (masuk waktu Maghrib).
Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Menunda-nunda membatalkan puasa demi memperlihatkan ketahanan fisik justru menyelisihi tuntunan sunnah.
Berbuka dengan Ruthab, Tamr, atau Air Putih
Urutan prioritas hidangan berbuka sesuai sunnah adalah dimulai dari ruthab (kurma basah yang masih segar). Jika tidak tersedia, beralih pada tamr (kurma kering yang biasa ditemui di pasaran). Apabila kurma sama sekali tidak ada, cukuplah membatalkan puasa dengan beberapa teguk air putih.
Makanan manis buatan, gorengan, atau hidangan berat sebaiknya dikonsumsi setelah mengamalkan sunnah ini atau selepas menunaikan shalat Maghrib agar tubuh tidak kaget.
Memperbanyak Munajat dan Permohonan Pribadi
Menjelang azan Maghrib hingga momen berbuka merupakan salah satu waktu mustajab untuk bermunajat. Doa orang yang berpuasa ketika hendak berbuka termasuk dalam golongan doa yang tidak akan tertolak.
Sangat disayangkan apabila waktu emas tersebut hanya dihabiskan untuk sekadar mempersiapkan hidangan atau mengobrol ringan. Memperbanyak istighfar, memohon ampunan, kesehatan, serta kebaikan dunia dan akhirat adalah tindakan yang sangat cerdas secara spiritual.
FAQ tentang Doa Buka Puasa Dzahaba
Q: Apakah doa buka puasa Dzahaba berstatus shahih?
A: Ya, hadits yang memuat doa tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai memiliki derajat hasan atau shahih oleh para ulama ahli hadits, termasuk Syaikh Al-Albani.
Q: Kapan persisnya doa Dzahaba diucapkan saat berbuka?
A: Waktu yang paling tepat adalah setelah membatalkan puasa (setelah membaca bismillah dan menelan kurma atau meminum air), sesuai dengan makna doa yaitu “telah hilang rasa haus”.
Q: Bolehkah menggabungkan doa Dzahaba dengan doa Allahumma laka shumtu?
A: Boleh. Beberapa ulama memperbolehkan penggabungan keduanya karena doa Allahumma laka shumtu memiliki makna yang sangat baik, meskipun doa Dzahaba lebih utama diamalkan karena sanad haditsnya lebih kuat.
Q: Siapa perawi utama dari hadits doa buka puasa Dzahaba?
A: Hadits ini diriwayatkan dari jalur sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang melihat langsung kebiasaan Rasulullah SAW saat berbuka.
Q: Apakah doa ini hanya dibaca saat bulan Ramadhan?
A: Tidak. Doa ini disunnahkan untuk dibaca setiap kali berbuka dari puasa apa pun, baik puasa wajib di bulan Ramadhan maupun puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa Arafah.
Penutup
Memahami serta mengamalkan doa buka puasa Dzahaba merupakan langkah nyata dalam menghidupkan sunnah Rasulullah SAW di tengah kehidupan sehari-hari.
Dengan derajat riwayat yang kuat dan validitas yang tidak diragukan, lafal doa ini mengantarkan setiap hamba pada kesadaran penuh akan nikmat Allah seketika dahaga dihilangkan dan urat-urat kembali basah.
Keselarasan antara tindakan fisik membatalkan puasa dan ucapan syukur melalui doa menjadikan ibadah semakin bermakna.
Mengutamakan amalan yang memiliki landasan dalil shahih akan memberikan ketentraman hati, memastikan bahwa ibadah yang dikerjakan sepenuhnya sejalan dengan apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.