Beo – Menjadi bilal dalam pelaksanaan sholat Tarawih memegang peranan vital untuk menjaga kekhusyukan dan semangat jamaah sepanjang ibadah berlangsung. Terdapat perbedaan urutan seruan atau sholawat bergantung pada jumlah rakaat yang dikerjakan oleh masjid atau mushola setempat.
Yakni format 11 rakaat (8 Tarawih + 3 Witir) atau format 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir). Menghafal urutan lafaz bilal mulai dari seruan memulai sholat, sholawat kepada Nabi, hingga taradhghi (mendoakan) Khulafaur Rasyidin sangat penting agar rangkaian ibadah berjalan lancar, tertib, dan penuh khidmat.
“Disclaimer: Informasi dalam artikel ini disediakan untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai saran profesional. Pembaca disarankan melakukan verifikasi tambahan atau berkonsultasi dengan pihak terkait sebelum mengambil keputusan.”
Urgensi dan Fungsi Bilal dalam Tarawih
Keberadaan bilal atau muballigh dalam sholat Tarawih bukan sekadar tradisi tanpa makna. Fungsi utamanya adalah sebagai komando perpindahan antar rakaat, mengingat sholat Tarawih memiliki jumlah rakaat yang lebih banyak dibandingkan sholat fardhu atau sunnah lainnya. Tanpa adanya bilal, jamaah sering kali lupa pada hitungan rakaat yang sedang dikerjakan.
Selain sebagai penanda waktu jeda (istirahat), bilal mengajak jamaah untuk senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan mendoakan para sahabat. Lantunan suara bilal yang merdu dan bersemangat.
Juga berfungsi mengembalikan energi jamaah yang mungkin mulai mengantuk atau lelah di tengah pelaksanaan ibadah malam tersebut. Oleh karena itu, memahami teks bacaan secara akurat menjadi keharusan bagi siapa saja yang mendapat amanah ini.
Struktur Bacaan Bilal Sholat Tarawih 11 Rakaat
Pelaksanaan Tarawih dengan formasi 11 rakaat biasanya dilakukan dengan skema 4 kali salam (masing-masing 2 rakaat) atau 2 kali salam (masing-masing 4 rakaat), ditutup dengan 3 rakaat witir.
Bacaan bilal pada format ini cenderung lebih ringkas dan fokus pada sholawat nabi tanpa menyertakan doa khusus untuk masing-masing Khulafaur Rasyidin secara terperinci.
1. Seruan Memulai Sholat (Awal Tarawih)
Sebelum takbiratul ihram rakaat pertama dimulai, bilal menyerukan ajakan sholat.
Bilal: Shallu sunnatat-tarawiihi rakataini jaami’atan rahimakumullah. (Sholatlah sunnah tarawih dua rakaat secara berjamaah, semoga Allah merahmati kalian.)
Jamaah: Rahimakumullah wa laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir. (Semoga Allah merahmati kalian. Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.)
2. Bacaan Setiap Selesai 2 Rakaat (Jeda Salam)
Setelah salam, bilal langsung melantunkan sholawat.
Bilal: Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. (Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad.)
Jamaah: Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaih. (Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepadanya.)
Pada rakaat-rakaat selanjutnya dalam format 11 rakaat, pola ini sering diulang. Namun, pada beberapa tradisi, terdapat variasi doa pendek setelah sholawat, seperti:
Bilal: Fadhlan minallaahi wa ni’mah. (Ini adalah anugerah dan nikmat dari Allah.)
Jamaah: Wa maghfiratan wa rahmah. (Serta ampunan dan rahmat-Nya.)
Teks Bacaan Bilal Sholat Tarawih 23 Rakaat (Lengkap)
Format 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir) adalah yang paling umum digunakan di masjid-masjid besar dan berbasis Nahdlatul Ulama (NU). Bacaan ini lebih panjang dan memiliki ciri khas penyebutan nama-nama Khulafaur Rasyidin pada interval tertentu.
Persiapan Awal
Bilal: Shallu sunnatat-tarawiihi rakataini jaami’atan rahimakumullah. Jamaah: Rahimakumullah… (sama seperti di atas) Bilal: Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Jamaah: Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaih.
Rakaat 1-2 (Menuju Rakaat 3-4): Abu Bakar Ash-Shiddiq
Setelah salam rakaat ke-2, bilal membaca:
Bilal: Fadhlan minallaahi wa ni’mah. Jamaah: Wa maghfiratan wa rahmah. Bilal: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir. Bilal: Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.
Jamaah: Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaih. Bilal: Al-khalifatul awwalu Sayyiduna Abu Bakarish-Shiddiq. (Khalifah pertama adalah junjungan kami Abu Bakar Ash-Shiddiq.) Jamaah: Radhiyallahu ‘anhu. (Semoga Allah meridhainya.)
Rakaat 3-4 (Menuju Rakaat 5-6): Transisi
Setelah rakaat ke-4 selesai, bacaan kembali ke sholawat standar tanpa menyebut nama khalifah, atau langsung bersiap menyebut khalifah kedua di jeda berikutnya.
Rakaat 5-6 (Menuju Rakaat 7-8): Umar bin Khattab
Setelah salam rakaat ke-6, persiapan masuk rakaat 7-8.
Bilal: Fadhlan minallaahi wa ni’mah… (dst) Bilal: Al-khalifatuts-tsaani Sayyiduna Umarubnul Khattab. (Khalifah kedua adalah junjungan kami Umar bin Khattab.) Jamaah: Radhiyallahu ‘anhu.
Rakaat 9-10 (Menuju Rakaat 11-12): Utsman bin Affan
Masuk ke separuh kedua sholat Tarawih.
Bilal: Al-khalifatuts-tsaalits Sayyiduna Utsmanubnu ‘Affan. (Khalifah ketiga adalah junjungan kami Utsman bin Affan.) Jamaah: Radhiyallahu ‘anhu.
Rakaat 13-14 (Menuju Rakaat 15-16): Ali bin Abi Thalib
Menjelang fase akhir tarawih.
Bilal: Al-khalifatur-raabi’ Sayyiduna ‘Aliyyubnu Abii Thaalib. (Khalifah keempat adalah junjungan kami Ali bin Abi Thalib.) Jamaah: Karamallahu wajhah / Radhiyallahu ‘anhu.
Rakaat 19-20 (Penutup Tarawih)
Sebelum rakaat terakhir (rakaat 19-20), bilal biasanya membaca doa penutup tarawih yang lebih panjang atau seruan terakhir.
Bilal: Aakhirut tarawiihi rahimakumullah. (Akhir sholat tarawih, semoga Allah merahmati kalian.) Jamaah: Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
Bacaan Bilal Sholat Witir (3 Rakaat)
Baik untuk format 11 maupun 23 rakaat, pelaksanaan sholat Witir memiliki seruan bilal tersendiri. Witir lazimnya dilakukan 2 rakaat salam, ditambah 1 rakaat salam.
Bagian 2 Rakaat Awal Witir
Bilal: Shallu sunnatal witri rakataini jaami’atan rahimakumullah. (Sholatlah sunnah witir dua rakaat berjamaah, semoga Allah merahmati kalian.) Jamaah: Rahimakumullah…
Bagian 1 Rakaat Terakhir Witir
Bilal: Shallu sunnatal witri rak’atan jaami’atan rahimakumullah. (Sholatlah sunnah witir satu rakaat berjamaah…) Jamaah: Rahimakumullah…
Tips Membawakan Bacaan Bilal dengan Baik
Menjadi bilal memerlukan teknik vokal dan pengelolaan napas yang baik agar suara tetap stabil dari awal hingga akhir tarawih. Berikut adalah beberapa hal teknis yang perlu diperhatikan:
- Pengaturan Napas (Diaphragmatic Breathing): Mengingat banyaknya bacaan yang dilantunkan dengan nada tinggi, pernapasan perut lebih disarankan daripada pernapasan dada untuk menghindari suara serak atau kehabisan napas di tengah kalimat.
- Intonasi yang Jelas (Makhrajul Huruf): Keindahan suara penting, namun kejelasan lafaz jauh lebih utama. Pastikan setiap huruf Arab terucap sesuai makhraj-nya agar tidak mengubah arti.
- Memperhatikan Tempo Imam: Bilal harus peka terhadap kecepatan sholat Imam. Jangan memulai seruan terlalu cepat saat jamaah masih menyempurnakan duduk, dan jangan terlalu lambat sehingga membuat jeda sholat menjadi terlalu lama.
- Menjaga Semangat: Suara bilal adalah barometer energi masjid. Jika suara bilal lemah, jamaah cenderung ikut lesu.
FAQ tentang Bacaan Bilal Sholat Tarawih
Q: Apakah bacaan bilal sholat tarawih wajib menggunakan bahasa Arab?
A: Ya, lafaz sholawat dan doa sebaiknya menggunakan bahasa Arab karena merupakan ibadah mahdhah (khusus). Namun, seruan instruksi teknis bisa disesuaikan, meski tradisi umumnya tetap menggunakan bahasa Arab.
Q: Apa perbedaan utama bacaan bilal 11 rakaat dan 23 rakaat?
A: Perbedaan utamanya terletak pada penyebutan nama Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Format 23 rakaat menyertakan nama-nama ini di sela-sela rakaat, sedangkan format 11 rakaat biasanya hanya fokus pada sholawat Nabi.
Q: Bolehkah membaca teks saat menjadi bilal?
A: Boleh. Tidak ada larangan membaca teks bagi bilal, terutama untuk menjaga ketepatan urutan nama khalifah dan doa, agar tidak terjadi kesalahan di hadapan jamaah.
Q: Apa jawaban jamaah saat bilal menyebut nama khalifah?
A: Jamaah menjawab dengan “Radhiyallahu ‘anhu” yang berarti “Semoga Allah meridhoinya”. Khusus untuk Ali bin Abi Thalib, kadang dijawab dengan “Karamallahu Wajhah”.
Q: Mengapa bilal menyebut nama empat khalifah dalam tarawih 23 rakaat?
A: Ini adalah bentuk penghormatan (tardhiyah) kepada para sahabat Nabi yang telah berjasa besar dalam Islam, sekaligus mengikuti tradisi ulama terdahulu untuk mengenang kepemimpinan Islam yang adil.
Kesimpulan
Pemahaman yang mendalam mengenai Bacaan Bilal Sholat Tarawih 11 dan 23 Rakaat tidak hanya membantu kelancaran teknis ibadah, tetapi juga menambah kekhusyukan suasana Ramadhan.
Baik menggunakan format yang ringkas maupun panjang, inti dari peran bilal adalah mengajak umat untuk terus membasahi lisan dengan sholawat dan doa. Persiapkan diri dengan menghafal atau mencatat teks di atas agar tugas mulia ini dapat terlaksana dengan sempurna.