spot_imgspot_img

Belajar Jurnalist Tanpa Kesadaran, Bak Mengikir & Membersihkan Karat Dibaja Tua

Pekerjaan Jurnalist (Wartawan), menantang beresiko tinggi. Namun, menarik disimak dan ditelaah. Bahkan beresiko fisik, penjara bahkan kematian terjadi didunia Wartawan. Uniknya dunia (profesi) yang satu ini makin hari berpacu dengan waktu kian diminati banyak pihak. Ada pihak berpendapat, merupakan vital dan bergengsi. Maka diminati, banyak pihak. Benarkah profesi yang satu ini sebuah Kemerdekaan tanpa batas…?

Tim Catatan Yang Terabaikan, mencatat dari data yang dikumpulkan bertahun-tahun lamanya, ternyata menjadi seorang Wartawan yang handal, jujur dan bertanggungjawab tidaklah mudah.

Apa lagi dimulai pada usia pertengahan senja. Jika dijalani tanpa kesadaran yang sesungguhnya, (ikhlas) bak mengikir/ mengikis Karat dibesi tua. Bayangkan tingginya tingkat kesulitannya.

Namun, bagi setiap Wartawan, Calon Wartawan khususnya Beo.co.id dan Gegeronline, kendati memulai kariernya diusia menjelang senja bila dikerjakan dengan serius (sungguh-sungguh) maka Ia akan menjadi Wartawan yang bertanggungjawab, bukan batas mengantongi Kartu Pers dan Surat Tugas (ST). Kebanyakkan yang terjadi selama ini, Kartu Pers dan Surat Tugas, hanya batas identitas semata bukan melahirkan Karya Jurnalistik bagi kepentingan publik (masyarakat luas).

Bahkan tudingan miringpun dengan sebutan Wartawan Tanpa Media (WTM), Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS), Wartawan Abal-abal (WA2), Wartawan Tanpa Malu (WTM), Wartawan Tanpa Berita (Wataber), dan sejumlah tudingan lainnya.

Jika disadari secara mendalam (cerdas) apa yang ditudingkan masyarakat itu memang ada benarnya, ini semua dampak dari para oknum Wartawan yang angkuh dan sombong serta yang mengaku-ngaku Wartawan dan tidak berkarya.

Malah kesan yang tertangkap dari redaksi media ini, kritik tajam masyarakat, dengan yel-yel, mereka mempertanyakan “mana beritanya-mana beritanya?” Disinilah redaksi media ini, harus menerima kritik pedas itu.  Redaksi dan Wartawan media ini harus menyadari kelemahan yang terjadi, bisa terciptanya kesalahan.

Karena Wartawan tidak menulis, berarti tidak peduli terhadap kepentingan umum, (tidak menjalankan amanat UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers), dimana hak masyarakat untuk  mengetahui informasi yang terjadi dan berkembang begitu cepat terkesan disembunyikan?.

Tudingan lainnya juga muncul, adanya oknum Wartawan Gadungan (Wargad), yang praktiknya memanfaatkan berita-berita yang bersifat Kontrol, mengkritisi dugaan praktik KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme), oknum wargad mendatangi pihak yang sudah diberitakan, (sakit hati) dan mengatakan bahwa itu berita KKN sudah lama dimilikinya, karena saling kenal, “maka didiamkan” sementara?.

Sontak oknum pelaku praktik KKN terkejut, kamu jangan ikut-ikutan kitakan sudah kawan lama, apa yang diperlukan ngomong bae (bilang saja), perlu “minyak motor, makan siang, uang rokok, beres tawar oknum… bak gayung bersambut” semua jadi beres. “Beres uangnya, beres kasusnya turut disembunyikan, seharusnya diberiatakan banyak media, akhirnya tidak, hanya diberitakan oleh media tertentu saja.

Bahkan oknum Warga, turut menuding pihak yang memberitakan “itu tindakkan yang tidak benar, sakit hati kata oknum Wargad meyakin kan oknum pejabat yang terlibat KKN ria” merampok uang rakyat, membangun sistem kekeluargaan diawali dengan cara kolusi mengatur penggunaan dana untuk pembangunan, mulai disunat dari pra lelang yang dikenal dengan “uang fee”, uang keamanan, sampai pekerjaan selesai (finish handover) atau serah terima akhir pihak kontraktor bisa kehilangan dana sekitar 35 % dari nilai kontrak.

Dan tak heran sejumlah bangunan yang dibuat baru, rehabilitasi ringan dan berat, misalnya pekerjaan pada Jaringan Daerah Irigasi (D.I.), Jalan, Jembatan, Gedung, Pengadaan air bersih banyak yang tidak mencapai sasaran dan tujuan akhir azas manfaat. Dan tak heran ada beberapa temuan dilapangan bangunan berumur pendek, (tidak sesuai hasilnya dengan rencana semula), namun tak terjangkau aparat penegak Hukum?.

Karena kuat dan rapinya praktik “KKN” didaerah tertentu, dan tak heran pula dana anggaran baik bersumber dari dana alokasi khusus (DAK)-APBN dan dana alokasi umum (DAU)-APBD daerah sangat lamban menyelesaikan kepentingan masyarakat (rakyat). Karena praktik “KKN” yang rapi, dengan melibatkan para oknum-oknum yang ahli dibidangnya.

Dimulai dari lingkungan dinas dan instansi terkait, melibatkan oknum aparat penegak Hukum, oknum Wartawan dan oknum LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), bahkan oknum dewan perwakilan rakyat daerah dan pusat, yang merupakan jelmaan rakyat.

Pertanyaanpun bisa muncul dari masyarakat awam sekalipun, kita dijajah oleh siapa…? Belanda dan Jepang sudah diusir dengan perjuangan keras para pahlawan, mengalirkan darah dan air mata bahkan nyawanya. Ternyata, penjajah yang sulit dilumpuhkan adalah melawan penjajah dari bangsa sendiri, (Bungkarno) dalam Pidatonya, dikutif kembali.

Karena kita berada dalam dunia informasi dari detik, menit dan jam berubah perkembangnya, maka dunia Wartawan (Jurnalist) kian menjadi sorotan, mana dan apa kerjanya Wartawan, kok beritanya “adem ayem, bahkan terkesan disembunyikan” siapa aktor dugaan pelakunya melibatkan oknum-oknum penguasa, sulit terangkat beritanya secara terang benderang.

Karena kata penguasa hampir sama artinya dengan kekuatan, dan bisa berbuat dan bertindak kapan saja, (kapan diperlukan), terhadap pihak-pihak yang dianggap mengganggu praktik KKN yang tersusun rapi itu.

Untuk menginformasikan pada masyarakat luas (rakyat), peran, fungsi, tugas Wartawan sangat strategis jika dijalankan secara benar dan bertanggungjawab. Maka bagi anda yang memilih pekerjaan/ profesi Wartawan melatih diri dan belajar tanpa henti memperdalam dunia Jurnalistik, maka siap-siaplah mendapat tekanan dari pihak manapun, kapan dan dimana saja bisa terjadi.

Karena Nyaris tidak ada pihak yang merasa suka jika borok-boroknya diungkapkan secara terbuka kedepan umum. Hanya orang yang sadar dan kasatria yang mau mengakui kesalahannya. Dan tidak mudah diera melenium ini, orang mau mengakui kesalahannya?. Terkecuali putusan majelis Hakim yang memiliki kekuatan Hukum tetap, itupun terpaksa dijalani, bahkan masih ada yang memilih melarikan diri, dan masuk daftar pencarian orang (DPO).

Dengan berat hati bila anda menjatuhkan pilihan sebagai seorang Jurnalist (Kuli tinta), modal dasarnya membangun kesadaran pada diri masing-masing, memperdalam ilmu journalist tanpa henti sampai batas akhir kemampuan otak dan fisik bekerja. Dengan tetap melakukan kerja keras, kerja ikhlas, jujur memperoleh, jujur mengelola, jujur menyampaikan dan jujur menerapkannya.

Karena, Fikiran (akal), Nafsu yang paling banyak berbohong (suka berbohong), kata pendapat Syehk Siti Jenar dalam menjawab pertanyaan murid-muridnya dalam mengembangkan kebaikkan dimuka bumi ini. Dikutif kembali.

Kebohongan Fikiran (akal) dan Nafsu, semata meraih impian demi kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya. Dunia Wartawan (Jurnalist) merekonstruksi ulang catatan peristiwa (kejadian), semata mencari kebenaran, bukan memaksakan pembenaran?.

Selamat bertugas Wartawan BEO.CO.ID dan GEGERONLINE, Redaksi meminjam istilah orang bijak, jujur dan ikhlas mengatakan, “Kita harus benar dulu, Sebelum mencari kebenaran itu?  Katakanlah yang benar itu tetap benar, Sekalipun pahit“

Tugas yang paling berat mengalahkan Fikiran kotor dan Nafsu yang bejat, yang banyak berbohong. Semoga kita bekerja dan berjuang jujur dan ikhlas dalam menegakkan kebenaran demi rasa keadilan ditengah masyarakat. Semoga. (***).

Get in Touch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

Related Articles

spot_img

Get in Touch

22,764FansSuka
3,041PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Posts