spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PEMPRED BEO, BERI PELATIHAN WARTAWAN TINGKAT DASAR DI SMA N 2 CURUP

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Kepala Sekolah SMA N 2 Curup, Pedito Alam Majid. Dok/Ist

KOTA CURUP, BEO.CO.ID – Pemimpin Redaksi BEO.co.id, Gafar Uyub Depati Intan, akrab dipanggil “Bang Ayub” yang juga Ketua DPD-KWRI (Dewan Pimpinan Daerah-Komite Wartawan Reformasi Indonesia Prop. Bengkulu, Jum’at 1 Maret 2024, bertempat diruang Aula SMA Negeri II Curup, Kesambe, memberikan pelatihan Wartawan (Jurnalist) tingkat dasar, mulai dari mengenal, “apa itu berita, dan mengenal full rumus 5 W+ 1H. Sebagai dasar pengumpulan data secara benar, agar terpenuhi syarat penulisan berita.

Bang Ayub, kepada rekan Wartawan mengatakan benar pada hari ini, Jum’at kita memberikan pelatihan dasar pengenalan Jurnalist ke sekolah terutama bagi para siswa/siswi Kelas III (Kelas 12), terdiri dari 10 SMA / sederajat perwakilan dari sekolah yang hadir masing-masing, berjumlah lebih kurang 40 siswa dan siswi, mayoritas dihadiri siswa perempuan.

Acara tersebut atas undangan dari SMA Negeri II Kota Curup, an Kepsek SMAN II, Pedito Alam Majid M.Pd, yang biasa disapa “Ditok” beberapa hari lampau dia telah menghubungi saya langsung, minta kesediaan mengisi acara nara sumber untuk mengenalkan Pers/ Wartawan kedunia pendidikan, terutama bagi siswa yang duduk dibangku terakhir, pintanya.

Saya jawab insyaallah kalau kesehatan memungkinkan, jika masih ada Narasumber dari media lainnya silakan undang mereka. Untuk kali ini saya berharap dari BEO.co.id, ujarnya singkat.

Alhamdulillah kesehatan saya cukup baik, tuhan memberikan anugerah itu, jelas Bang Ayub.

Dalam pelatihan dimulai sekitar pukul 08 : 30 WIB, s/d pukul 10 : 45 WIB, berjalan baik. Saya menekankan kalau membawa artinya (menjawab) pertanyaan dari pedoman kerja 5W + 1H, itu mudah sekali, apa lagi ditanyakan pada rekanan Wartawan Senior / wartawan, hampir rata-rata mengatakan mudah dan gampang.

Tapi, banyak laporan dalam penulisannya amburadul, jika Redaksi dan redakturnya tidah memahami dan edittingnya kurang baik, bisa membahayakan terutama menyangkut kasus yang fliks (kompleks) masalahnya.

Tapi penulisannya terasa sangat sulit memadukan hasil kerja Wartawan dari lapangan sehingga berita yang disuguhkan Wartawan pada pembacanya, mudah difahami, tahu maksud dan tujuannya, ini memerlukan pelatihan menulis dan menulis terus, jelas Bang Ayub.

Mulai dari apa yang terjadi ? Apa yang harus dilakukan Wartawan. Dimana terjadi, Kapan terjadi, Bagaimana cara terjadi dan seterusnya kata bang Ayub, ketika kita dibaca banyak berita yang sulit difahami maksud dan tujuannya, karena kemampuan Wartawan tidak terlatih sungguh – sungguh dalam penulisannya.

Maka saya tekankan, pada peserta latihan Wartawan harus mengutamakan dahulu peristiwa apa yang terjadi dan tidak bisa dikira-kira, karena objek penting yang akan ditulis dalam bentuk berita, sebagai hak public untuk mengetahui, dilengkapi kapan terjadinya, pagi, sore, siang dan atau malam hari, jika perlu waktunya ditulis, dan bagaimana modus operandinya terjadi atau peristiwa, sehingga pembaca tidak ragu akan kebenarannya.

Para peserta Nampak bersemangat mengikuti pelatihan, dan saat diskusi (dialog) dilakukan banyak pertanyaan yang diajukan tiga orang penanya, dan sangat menarik untuk dijawab dan harus disadari oleh rekan/ wartawan active saat ini.

Dari tiga pertanyaan yang diajukan, salah satunya menanyakan bagaimana menerima/ membentuk wartawan yang benar?

Karena belakangan ini beberapa kasus dan sejumlah kasus yang terjadi didunia wartawan (journalist), tentu dilakukan oleh oknumnya, bukan menjastis atau menyama ratakan.

Saya jelaskan lanjut bang Ayub, pertama harus memulai dari pelatihan dasar, mulai dari mengenal/ memahami maksud dan tujuan pedoman (rumus 5W + 1H), jika pertanyaan-pertanyaan dari rumus 5W_1H terjawab dengan baik, maka tidak akan pernah ada berita hoax (bohong).

Kata kuncinya ada pada chek and richek, dan terpenuhi unsur dalam penulisan berita. Dengan mendalami, apa yang disebut kata Wartawan? Wartawan (orang) yang active melakukan kegiatan Jurnalist secara teratur, tidak terputus-putus.

Diatas dasar pijakan kerja, kejujuran dan kebenaran, guna melahirkan karya Jurnalistik yang diakui publik (masyarakat luas), bukan kelompok tertentu yang punya kepentingan tertentu selaku pembelaan diri/ kelompoknya, ditulis atau tidak sebuah peristiwa, karena dibayar.

Dan jangan sampai ada wartawan yang mendua (menggandakan) profesi/ pekerjaan wartawan, “kadang jadi wartawan, kadang jadi pemborong, ketika tidak dapat proyek jadi wartawan lagi, kartu Pers dan surat tugas hanya alat untuk mendapat pekerjaan proyek” oknum yang seperti ini layak disebut, “mafia” berita.

Saya, pribadi sudah 37 tahun sampai tahun 2024 mengakui dengan jujur, tidak menjadi wartawan jujur seratus persen, saya tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak .

Sebagai manusia biasa, tentu ada cacat dan nilai kurangnya, tapi berani menulis karena ada fakta dan petunjuk dan terkonfirmasi dengan baik, kenapa tidak.

Itu Wartawan yang sebenarnya, dan bukan karena sakit hati dan dibayar pihak tertentu dan atau kepentingan politik.

Jadi ketentuan rumus 5W+1H, jika dibaca dan dihapal sangat mudah, semuanya harus dijawab dengan chek and richek, yang jujur dan benar.

Para peserta juga mengajukan pertanyaan bagaimana menjadi wartawan professional dan benar.

Saya, jelaskan jika 5W+1H terjawab, hasil chek dan richek secara jujur, diberitakan itulah profesionalitas, dan berani menolak intervensi dari pihak manapun.

Sebuah masalah diberitakan, karena terjawabnya pertanyaan dari 5W+1H, Independen dan profesionlitas, tidak mengutamakan kepentingan pribadi dengan menggunakan indentitas wartawan.

Bagi saya tetap percaya tuhan maha segalanya, kapan dan dari mana saja rezeki itu akan datang pada waktu yang dikehendakinya.

Kalau ikhtiar (usaha) itu benar diperintah sejak habisnya waktu Sholat Shubuh, siapa yang mencarinya secara benar tetap akan diberi rezeki, artinya saya ingin menegaskan, tidak harus menggunakan identitas wartawan, apa lagi sengaja menyalahgunakannya.

Karena pertanyaan yang diajukan para peserta pelatihan para Siswa/ Siswi terbaik mewakili sekolahnya masing-masing, dan keinginan tahunya cukup tinggi dan baik, jelas bang Ayub.

Kepala SMN Negeri II Curup, Pediro Alam Majid, M.Pd, secara terpisah mengatakan “kita ingin melihat generasi muda, mau bekerja keras tanpa selalu diperintah, dan mau menggali ilmu sebanyak mungkin, terutama dengan banyak membaca berbagai buku dan leteratur termasuk dunia Jurnalistik, paparnya.

(BEO.co.id / Eluban Rna Intan, redaktur Senior/ Hendri Verdian).

Kisah Singkat Jurnalis Gudi Podcast Kemenag Rejang Lebong

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org