spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Masalah Khilafiyah Agama Kembali Terjadi di Desa Sungai Batu Gantih?

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Gafar Uyub Depati Intan

KERINCI, BEO.CO.IDBagi pemeluk Ajaran Islam (Pemeluk Islam), seharusnya membawa berkah bagi semuanya Karena Islam itu, “Rahmatalillalamiin” rachmat sekalian alam, harus membawa berkah untuk semuanya. Bukan berpecah belah, satu sama lainnya sesama pemeuluk Islam, kata Gafar Uyub Depati Intan, 67 tahun putra Asli Kerinci, asal Sungai Batu Gantih, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci Jambi.

Jika terjadi perbedaan pendapat, pandangan tentang kajian yang dipelajari masing-masing pihak, misalnya dari Terekat Nakhsyabandiyah, fahami dan dalami dengan baik dan benar, jangan sampai saling mengklaim hebat, lalu muncul “keangkuhan, sombong, apa lagi dengki sesama umat Islam, dan umat lainnya dimuka bumi ini” jelas Bang Ayub.

Kita harus damai, dan sungguh untuk memahami mana yang benar dan mana yang keliru. Tak perlu ego (egoisme), mari kita berusaha keras untuk memahami apa yang terbaik dalam menekum dan memahami tentang Islam. Jika ada perbedaan pendapat, mari kita bawa dan dalami apa yang sebnarnya?.

Saya, sudah lebih kurang 44 tahun meninggalkan kampung halaman, dan sudah banyak guru tempat belajar tentang Islam, sampai hari ini saya belum faham dan belum pintar tentang Tarekat, baik Nakhsyabandiyah maupun yang lainnya.

Prinsip yang saya anut (yakini), Allah itu satu, Ahad (Tunggal), tidak ada yang lain. Dan ajaran Tarekat, apapun sepanjang memberikan manfaat, bukan mudarat, saya akui dan difahami untuk kebaikan, bukan untuk dipertengkaran antara satu dan lainnya.

Saya himbau pada masyarakat Sungai Batu Gantih, Kerinci, (Datuk (Nyantan/ Tino, mamak, datung, keponakan) dan semua lapisan,  hentikanlah perbedaan pandangan tentang ajaran yang dipelajari tentang Tarekat apa saja namanya.

Sepanjang untuk kebaikan, mari kita gunakan secara benar dan jujur, bukan, dengan cara-cara, “angkuh, sombong, apa lagi menimbulkan perpecahan” buang jauh dan lupakan yang memecah belah umat, sesame Muslim dan antar umat beragama lainnya.

Kita semua hamba ciptaan Allah, yang turun temurun dari Nabi Adam Alaihiilshalam (AS) ciptaan Tuhan yang ahad. Yang dibuat dari tanah, yang sifatnya ada dari unsur “angin, air, api, dan tanah”  tak heran, ada yang dingin, sejuk, panas, dan berbagai warna” semuanya Ciptaan Allah yang tunggal.

Dan kepadanya kita bersujud (dengan merendahkan diri dalam sujud), bersyukur, (karena Ia yang maha segalanya, bukan kita. Kita hanya raga semata, yang diberi Ruh, akal (fikiran) dan diberi Nafsu. Penting di ingat, “akal/ fikiran dan Nafsu” paling sering berbuat bohong. Jika tidak percaya tanyakan pada hati dan diri kita masing-masing. Apakah kita sudah benar ???

Saya tegaskan, lanjut Gafar Uyub, “Gelar Depati Intan”  siapa yang benar diantara kita, masyaa allah, Wallhamdulillah, itu rahasia Allah yang satu, (Ahad), kita tidak tahu. Kita hanya berusaha keras untuk bertobat, dan menyadari kesalahan diri kita selama ini.

Sudah puluhan tahun terdengar nada minor satu sama lainnya, dalam mempelajari (memahami) masing-masing ajaran tarekat. Hindari saling menyalahkan.

Sejak nama Masjis ALL-IKHLAS (Baitul Ikhlas) diganti nama menjadi ALL-Amin, (Baitul Amin) masyarakat Sungai Batu Gantih, yang dikenal kompak dari Nenek Moyang Suku Bangsa Kerinci, setidaknya sejak masuknya Islam ke Desa Sungai Batu Gantih, sebelum Indonesia merdeka. Tidak seperti sekrang?.

Kalau alasannya soal nama Masjid Baitul Ihlas, menjadi Baitul  Amin, yang “menimbulkan perpecahan, Sholat tidak bisa bersama lagi, terlalu “kerdil dan picik” cara berfikir kita.

Dan tidak ada salahnya dengan kesepakatan bersama, kita kembalikan ke nama aslinya sejak dirikan oleh para pendahulunya, yang telah bersusah payah dan bercucur keringat membangun rumah Ibadah (Rumah Allah) itu.

Jangan sampai nama rumah Ibadah menjadi pertengkaran dan perdebatan tanpa ujung?

Dan kita harus meninggalkan jejak yang baik kepada generasi penerus, untuk membesarkan Siar, Islam ditanah leluhur kita ini.

Ketua Masjid Harmon, yang dikonfirmasi S.R. Brusli wartawan BEO.co.id,diMushola Tarekat Naqsayabandi Tepian Ombak, sekitar pukul (Jam 08:50 WIB)  Hari Senin, 11 maret 2024.

Harmon mengatakan “bahwa siapa yang mau Sholat di Surau atau dimanapun jangan pernah berzikir atau berdoa secara berjamaah kalau jadi imam, karena tidak ada ajaran tarekat yang mengajarkan begitu katanya kepada Safwandi Rugandi Brusli dari BEO.co.id.

Pertanyaannya, apakah pendapat, “Harmon” itu benar,…kitapun tidak tahu?. “Mungkin benar, dan mungkin juga tidak?”

Masalah Khilafiyah dari mulai dalam Masjid Baitul Amin Ulama tareqat seperti Muklis atau “Pak Neno” yang mengatakan ke Wartawan Beo.co.id, tahun 2023 lalu kalau membayar fidiyah juga tidak ada Dalil dari Nabi Muhammad SAW.

Sekarang Masjid Baitul Amin Desa Sungai Batu Gantih jamaahnya yaitu, “kelompok Tarekat Naqsayabandi Dan kelompok Tareqat Musyaifin atau “Tarekat Merah dan sebagian orang masyarakat biasa yang Tarawih dan Sholat berjamaah hilangnya kekompakan, karena Jamiatul Islamiyah, “pengajian Surau Hijau-Jafar Kamin, “(Pak Mela,”  yang terlihat bertetangga Masjid tapi, pergi  Sholat Subuh ke Mushola Surau Hijau Sungai Batu Gantih.

Karena tidak mau berjamaah di Masjid Baitul Amin akibatnya terjadi “ya” perdebatan masalah Khilafiyah sejak Tahun 1990, an sampai sekarang.

Sejauh ini, nama Masjid Baitul Ikhlas tidak dikembalikan seperti nama semula, sehingga maraknya terjadi perdebatan masalah Khilafiyah seperti Sholawat yang dulunya Shlowatan secara berjamaah sambil berdiri bersmaan dengan teratur.

Seperti Azan dan “Talkin Mayat dalam kuburan” sekarang sudah dihilangkan, seperti bayar fidiyah yang bagi orang mati yang tercantum dalam Kitab Kuning perukunan melayu juga di tiadakan, semua diakhiri masa H. Nurmis Abdul Hamid, “Gelar Depati Intan”  pada Tahun 1990 – an.

Dari pengamatan dan monitoring Wartawan BEO.co.id, Kalau hanya batas persoalan nama Masjid Baitul All Ikhlas, berubah nama menjadi All-Amin, mengakibatkan perpecahan, sebaiknya dikembalikan kenama aslinya. Tentu melalui musyawarah mufakat bersama, semua elemen harus dilibatkan.

Dan untuk menjadi pengurus Masjid, Imam, Khatib, dibagi sesuai dengan kesepakatan para pendirinya dulu, yang lebih penting umat Islam bersatu di Desa Sungai Batu Gantih. Dan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan dan ajaran Islam, jangan ditambah-tambah dan di kurangi?”

Setiap umat Islam, harus memahami betul, bahwa Islam itu, “Rahmatalliil alamiin” rachmat untuk semua alam dan umat dimuka bumi ini.

Mari kita sepakat meninggalkan sifat-sifat  jika ada “Ke-Angkuhan, Sombong dan Dengki” dalam penghidupan dan kehidupan ini, bersatu padu (Silaturrahmi), bersujud dan syukur kepada Allah, adalah sebaik tempat berlindung, tidak ada yang lainnya.

(BEO.co.id / Red / Safwandi, RB).

Kisah Singkat Jurnalis Gudi Podcast Kemenag Rejang Lebong

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org