spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

PEMKAB KERINCI, AKAN BAHAS PENYEBAB BANJIR HARUS MENDENGAR MASUKAN SEMUA PIHAK

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Pj Bupati Asraf saat meninjau kondisi banjir Kerinci (Ilustrasi/Net)

Rencana Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemdakab) Kerinci, Propinsi Jambi, membahas penyebab banjir bersama Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (Enam) adalah langkah positif untuk menyelamatkan Kerinci kedepannya.

Langkah ini yang akan diambil Pejabat Bupati (PJ) Bupati Kerinci Asraf, SPt. MSi, ini harus direalisasikan secara Independen dan mendengarkan suara masyarakat mulai dari tenaga ahli dibidangnya, dinas dan instansi terkait, masyarakat petani melalui perwakilan dari setiap kecamatan di Kabupaten Kerinci dan jika perlu bersama Pemkot Sungai Penuh, bersama jajaran terkait.

Dan para peserta pembahas penyebab banjir, diberikan waktu yang cukup, independen dan jangan di intervensi harus murni pendapat peserta.

Dan pembahasan penyebab banjir, harus mengikut sertakan Dinas Kehutanan, ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), Lingkungan Hidup, Balai Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) Propinsi Jambi. Dan jika perlu khusus TNKS harus di ikut serta 4 Propinsi, Prop. Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Sumatera Barat.

Kodisi DAS Batang Merao Lubuk Nagodang. Dok

Dan juga perlu mengikut sertakan, Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Propinci, Kabupaten dan Kota, dan Bidang Penataan Rung Dinas PUPR. Dan para aktivis Lingkungan yang active dan Profesional, Masyarakat Adat yang mengerti dengan Hutan Adat. Pembahasan seperti ini butuh waktu yang cukup, bukan Serimonial semata.

Langkah pembahasan penyebab banjir, sangat strategis dan harus kita dukung bersama langkah yang akan diambil PJ Bupati Kerinci, Asraf SPt. MSi, bersama pihak terkait lainnya.

Dan jangan lupa Bidang Cipta Karya (CK), perlu di ikut sertakan, mengingat berdasarkan fakta lapangan sangat banyak masyarakat Kerinci yang senagaja mendirikan rumah dipinggir sungai dan tidak mau di ingatkan.

Seperti banjir yang baru saja terjadi, 2 Februari 2024 di Talang Tinggi (Mukai Tinggi) Dusun Satu, sangat banyak rumah didirikan dibibir sungai. Memang itu tanah dan hak milik mereka, tapi bahaya banjir tidak mengenal waktu dan longsor. Dan masih juga masyarakat kita yang mendirikan rumah dipunggung bukit (lereng bukit) yang agak terjal, ini perlu diberikan pemahaman yang benar.

Tim Catatan yang terabaikan, sudah banyak mencatat dan mempublikasi masalah lingkungan dan kerusakan Hutan di Kabupaten Kerinci dari tahun 2009, era Bupati Kerinci H. Murasman, lalu digantikan Adirozal 2014-2019- dan 2019-2023, dimana masukan nyaris selalu di abaikan. Ketika banjir bandang mendera Kerinci, Kota Sungai Penuh, dan Jambi, kita mau berbuat apa?

Dan tak satupun diantara kita bisa mengatasi banjir. Maka langkah yang diambil Asraf, selaku PJ Bupati Kerinci, adalah langkah startegis harus kita dukung bersama.

Jika Pemdakab Kerinci, dan Propinsi Jambi, bersama TNKS, Dinas Kehutanan dan Pertambangan tidak mendalami penyebab banjir, dan membiarkan hutan dibababat (ditebangi secara liar), tanpa mengacu pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan berlaku. Sulit kita berharap Kerinci dan Kota Sungai Penuh, akan aman dan tidak diterjang banjir.

Dan sangat tidak berarti jika penyelamatan hutan Kerinci (TNKS), Hutan Penyangga, Hutan Produksi, Hutan Adat dan Penambangan Liar/ Tanpa punya Izin, dan punya Izin tapi tidak memelihara dan menyelamatkan lingkungan Kerinci akan tetap dirundung kehancuaran, tinggal waktu yang kita tidak tahu, Tapi kehancuran itu akan tiba…?

Dan informasi terkini adanya upaya PJ Bupati Kerinci, akan “bersama BWSS VI Jambi akan bahas Penyebab Banjir, diketahui dari pubblist Mediaonline “Metro Jambi.com” edisi Selasa, 30 Januari 2024, 11: 30 WIB. Dikutif kembali.

Pemerintah Kabupaten Kerinci bersama dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VI Jambi dalam waktu dekat akan menggelar Fokus Group Discussion (FGD) dalam menentukan penyebab banjir dan longsor di Kabupaten Kerinci.

Penjabat (Pj) Bupati Kerinci, Asraf mengatakan jika ia telah bertemu dengan kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi.

Hasilnya, untuk normalisasi sungai, penyebab banjir dan longsor akan dilakukan FGD. Tulis, Metro Jambi.Com, dikutif sebagaian isinya.

Dari catatan Tim Catatan yang terabaikan, penyebab banjir dan longsor di Kabupaten Kerinci, Jambi. Antara lain sebagai berikut.

  1. Penebangan hutan secara liar dengan mengabaikan amanat perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.
  2. Perusakan lingkungan akibat para penambang, baik yang punya Izin, apa lagi penambang lisr.
  3. Masyarakat yang tidak menjaga lingkungannya masing-masing mulai dari pembuangan sampah disembarang tempat, kedalam selokan, dan dibuang ke sungai-sungai disekitar tempat tinggal masing-masing.
  4. Tidak mau di ingatkan atau di tegur. Dan menjadikan daerah terjal (kemiringan) menjadi lading dan rawan amblas dan abrasi, apa lagi berada dekat dengan sungai.
  5. Peladang berpindah-pindah, ladang (bebun) lama yang dianggap tidak produktif lagi digantikan dengan lading baru, (menebang hutan secara liar).
  6. Pengawasan dari Dinas Kehutanan, ESDM Propinsi dan TNKS tidak maksimal, danmungkin alasanya terbatasnya dana operasional ke lapangan?. Apa lagi sejak Dinas Kehutanan-Kota, Kabupaten dihapuskan untuk seluruh Indonesia atas kebijakan pemerintah pusat, dinas Kehutanan Propinsi dan ESDM, jarang sekali ditemukan melakukan pengawasan dilapangan. Apakah sebulan 4 kali, dua kali, satu kali, atau lebih tiga bulan sekali, dan atau bila dianggap perlu?

Masyarakat nyaris tidak tahu kapan?. Dan dinas terkait kurang komunikatif dengan masyarakat dan msyarakat Pers dan lembaga resmi aktivis peduli lingkungan dan keselamatan hutan. Dan terkesan tertutup, jika menyangkut kasus kejahatan terhadap perusakan lingkungan dan penebangan hutan.

Seperti penebangan hutan di Danau Belibis, diduga ada oknum pejabat yang terlibat memakai lahan menggunakan pihak ketiga, (para oknum), da nada yang membangun Vila dikawasan hutan yang terlarang, apakah aparat tidak? Tidak mungkin tidak tahu, namun tidak dihentikan oleh aparat berwenang Dinas Kehutanan, TNKS, dan Polisi.

Karena belum ada kerjasama tim yang kuat (terpadu), jelas bentukan bersama pemerintah daerah kabupaten/ kota dan propinsi dengan melibatkan aparat berwenang dan mendanainya secara pasti.

Jadi langkap Pemdakab Kerinci untuk membahas “Penyebab banjir dan longsor” harus kita dukung bersama. Jika bahaya banjir dan longsor, minimal harus mampu dikurang (diperkecil), jika tidak lambat atau cepat, “kekayaan bumi Kerinci dan Kota Sungai Penuh, yang ada diatas bumi dan kekayaan perut buminya akan binasa?”

Jika alasan semata disandarkan akibat hujan, maka Kerinci dan Kota Banir dan Longsor, setiap tahunnya bila hujan turun agak deras dan lama, alasan itu ada benarnya.

Namun kita perlu memahami setiap anugerah (kekayaan alam) yang diberikan tuhan, “Tanah yang subur, alam nan indah, danau nan Cantik dan anggun, hutan yang lebat (perawan), beaneka ragam tumbuhan (flora dan fauna) tidak dipelihara dan di jaga Kerinci, akan menuai badai dan kehancuran.

Dalam hidup dan kehidupan ini, kita tetap dihadapkan pada banyak masalah. Diantaranya, “masalah terjadi, tanggapan muncul dari pihak yang dirugikan dan diuntungkan” bila kita tetap berkutat dengan dua ini, kehancuran pasti tiba, tunggu waktunya.

Dan seharus, dari “masalah, tanggapan, kita harus berada di posisi ketiga Solusi/ jalamn keluarnya” Jika bekerja keras, berfikir positif mencari solusi (jalan keluarnya), inysya allah Kerinci akan selamat.

Dan Pemdakab Kerinci dan Kota Sungai Penuh, memang harus berbenah diri, baik secara teknis duniawi, “jangan lagi ada oknum bangga dan  mempertontonkan serta membanggakan dosa dan hasil kejahatannya, seperti “praktik KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme), Narkoba, Penipuan, dan tindak kejahatan lainnya, pelakunya bebas, “nyaris tak tersentuh Hukum”

Ketika tuhan memberikan ujian, tak satupun diantara kita yang mampu mengatasinya. Maka kata Religius harus dipraktikan kebaikannya secara berangsur (bertahap), untuk memperbaiki kenyataan yang sudah terjadi selama ini. Secara umum Pemdakab Kerinci dan Kota, (kita semua) berbenah diri.

Dan untuk membenahi Hutan, Lingkungan yang hancur, banjir dan longsor, harus kita sepakati membenahi diri dulu (masing-masing), dan membangun kebersamaan membenahi Kerinci secara menyeluruh. Jadi langkah PJ Bupati Kerinci, Asraf SPt. MSi, akan membahas Penyebab Banjir dan Longsor bersama Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi, wajib kita dukung bersama.

Setelah diketahui secara meyakinkan penyebab Banjir dan Longsor, maka solusinya harus di nomor satukan. (***)

Penulis / Editor dan Penanggungjawab : Putra Asli Kerinci, Pempered BEO.co.id, yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Wartawan Reformasi Indonesia (DPD-KWRI) Propinsi Bengkulu.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org