spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

WARTAWAN BEO.CO.ID DI HIMBAU BERPUASA, GUNA LATIHAN JUJUR

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Oleh : Gafar Uyub Depati Intan

Dikutif dari berbagai sumber dan fakar hadits dan sumber utamanya Alqur,an dan penulis Opini ini belajar dari kesalahan dan kekeliruan masa lalu. “Angkuh, Sombong dan Dengki” harus dibuang jauh-jauh, jika mampu jangan sekali-kali mengenalnya.

Jika ketiga sifat itu tidak berusaha, bekerja keras meninggalkannya, lamban atau cepat berakhir dalam penghidupan dan kehidupan hanya menunggu waktu terjadi kerusakan kronis (kehancuran).

Dan ketiganya, “Angkuh, Sombong dan Dengki” untuk meninggalkannya, salah satunya dengan mengerjakan Puasa dibulan Ramadhan, yang akan kita jalankan tahun ini dan berikutnya.

Berangkat dari pengalaman penulis, dan kini diberi kekuatan, anugerah, sebagai Wartawan (Jurnalistik) dan Pemimpin Redaksi Mediaonline “BEO.co.id” oleh illah (Tuhan) yang maha segalanya, “maka saya himbau kepada seluruh Wartawan BEO.co.id, bagi yang beragama Islam untuk mengerjakan Puasa Ramadhan, tahun ini.

Karena Puasa itu, “waktu dan ruang mendidik dan latihan bagi pemeluk Islam berlaku dan bertindakJujur, apa lagi profesi Wartawan (Jurnalist), jika tidak jujur dalam menjalankan tugasnya, akan melahirkan berita-berita bohong (hoax), yang di larang dalam Agama dan bernegara.

Penulis sendiri wajib mengakui “sangat sulit menerapkan kejujuran (Jadi orang jujur), karena akal (fikiran) dan Nafsu yang diberikan Tuhan (Illah) yang maha kuasa sering sekali berbuat bohong, jika anda bantah silakan Tanya pada diri kita masing-masing, “pernah berbohong atau tidak?”

Maka Nya, saya menghimbau seluruh Wartawan BEO.co.id dan KORAN BiDiK ELANGOPOSISI untuk berpuasa selama 30 hari dibulan Ramadhan ini.

Karena mengerjakan Puasa secara sungguh-sungguh, adalah waktu dan ruang melatih diri menjadi “orang jujur” dan yang melakukannya secara benar (sungguh-sungguh), selain mendapat Pahala untuk akhirat nanti, dia akan tahu “mana yang benar dan mana yang buruk”


Mengutif tulisan H. Hendra Cipta Dinata, SE. MM, dalam bagiannya menjelaskan Puasa sama dengan “mengekang atau menahan diri dari sesuatu. Misalnya menahan diri dari makan, minum, bercampur dengan istri (Pada waktu Puasa), berbicara, dan sebagainya.

Puasa adalah melatih kesabaran sehingga seseorang bersikap sabar dan menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual dan sebagainya. 

Dalam alquran di sebutkan Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.

Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Azzumar, 39:10).

Demikian dijelaskan dalam Lisan al-Arab, 12/350. Arti semacam ini misalnya disebutkan dalam al-Qur’an, Allah S.W.T. memerintahkan kepada Siti Maryam, ibunda Nabi Isa A.S. sebagai berikut: maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.

BACA JUGA :  OKNUM SATPOL PP KERINCI : LARANG WARTAWAN MELIPUT KEGIATAN RAPAT DEWAN, PERINTAH ATASAN?

Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS. Maryam, 19:26).

Maksud dari ayat ini menjelaskan bahwa aku (Maryam) menahan dari berbicara pada hari ini sebagai nadzar terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih. Arti seperti ini bisa dikembangkan lebih jauh seperti menahan diri dari jenis makanan tertentu, menahan diri dari suatu pekerjaan, dan sebagainya.

Menurut pengertian terminologis atau pengertian secara istilah, puasa adalah meninggalkan makan, minum, hubungan seksual dan segala yang membatalkannya, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari.

Ibadah shiyam atau puasa, selanjutnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu (1) puasa lahiriyah dan (2) puasa batiniah. Puasa lahiriyah terletak pada tiga hal, yaitu meninggalkan makan, minum, dan hubungan seksual.

Puasa bathiniyah atau ruhaniyah, terdiri dari berbagai macam hal yang dapat merusak puasa seseorang seperti berdusta, berkata palsu, bersaksi palsu, meninggalkan perbuatan keji dan mungkar.

Dilanjutkan dengan menghindari sikap angkuh, ujub atau merasa paling baik, riya’ atau kebaikannya ingin dilihat orang lain, hasad atau dengki, dan berbagai macam perbuatan tercela lainnya yang dilarang oleh agama.

Puasa yang kita lakukan hendaklah mencakup dua jenis puasa di atas, yaitu puasa lahiriyah dan puasa batiniah.

Dengan melaksanakan puasa lahiriyah dan batiniyah sesuai tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah, akan memperoleh hikmah yang sangat tinggi, antara lain :

 1.       Meningkatkan ketakwaan.

Dengan takwa itu seorang akan memiliki bekal yang lengkap dalam segala kehidupannya. Dengan predikat takwa, maka seseorang akan memperoleh:

(a) Rizki yang banyak yang tidak terduga,

(b) Memperoleh jalan keluar dari segala kesulitannya,

(c) Dicukupkan kebutuhannya,

(d) Urusannya dipermudah,

(e) Mempu membedakan mana yang baik dan buruk

 (f) Mendapatkan ampunan.

2. Doanya akan dikabulkan

Disebutkan dalam hadits ada tiga kelompok orang yang doanya tidak tertolak, yaitu

(a) Orang yang berpuasa sampai ia berbuka,

(b) Pemimpin yang adil, dan

(c) Orang yang teraniaya. Hikmah puasa yang

(3) Adalah sebagai prisai dari siksa neraka. Hikmah

(4) Sebagai penghapus dosa.

(5) Dapat syafaat, disebutkan dalam hadits: Puasa dan al-              Qur’an memberikan syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat (HR. Ahmad). Dikutif kembali, dari tulisan yang luar biasa itu.

BACA JUGA :  OKNUM SATPOL PP KERINCI : LARANG WARTAWAN MELIPUT KEGIATAN RAPAT DEWAN, PERINTAH ATASAN?

Bagi Wartawan pentingnya kejujuran dalam melaksanakan tugasnya, karena Karya Jurnalistik yang disajikan, akan menjadi hak publik untuk mengetahui.

Maka landasan kerjanya harus berpijak diatas kejujuran, guna memperoleh Kebenaran bukan pembenaran untuk yang bayar.

Puasa, juga melatih jiwa raga menahan diri, karena untuk mendapatkan, “uang dan penghasilan yang haram” peluang terbuka lebar, dalam tugas Wartawan.

Karena banyaknya oknum pejabat Penyelenggara Negara yang mapan mempraktikan KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme” ketika kasusnya ditemukan Wartawan secara lengkap (data dan bukti) terhadap pelanggaran (korupsi) dan lainnya yang dilakukan, “oknum pelaku memilih berdamai dan bersahabat, tergantung lagi sikap mental oknum Wartawannya, memilih uang atau beritanya” tergantung Wartawan dan medianya?.

Disinilah ujian-ujian berat bagi seorang Wartawan (Jurnalistik), “pilih uang atau berita?”

Sedangkan dalam Payung Hukum Pers Indonesia yang berdasarkan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers, 11 Poin Kode Etik Jurnalistik (KEJ), ruh dan nafas perjuangannya untuk Kebenaran dari berita yang ditulis sang Wartawan.

Untuk memperoleh Kebenaran, maka diperlukan landasan kerjanya para Wartawan harus berpijak diatas Kejujuran, jika tidak akan melahirkan berbagai dampak Negatif yang ditimbukan?

Dan kembali pada Puasa. Puasa mengajarkan kita menahan diri, tidak makan, minum dan berhubungan Sex saat waktu Puasa.

Puasa juga mengajarkan kepada kita, Mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika kita memilih wajib yang baik, maka landasannya kejujuran.

Maka saya himbau pada Wartawan BEO.co.id, berpuasalah sungguh-sungguh, guna melatih diri berbuat Jujur. Penulis menyadari betapa “sulitnya menjadi orang jujur, jika tidak mau belajar dari dampak kesalahan itu sendiri”

Dengan tekad memperbaiki kesalahan selama ini, dengan tekad tidak menambah daftar panjang kesalahan baru, kita harus yakin, “Allah Itu Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, artinya maha memberi ampun dan maha memberi anugerah, asal kita sungguh-sungguh” Insya allah.

Dan untuk memajukan profesi Wartawn, selain harus kerja keras secara fisik, kerja keras fikiran dan keyakinan dalam hati, sepanjang kita berusaha diatas kejujuran Insyaallah akan melahirkan Kebenaran. Jangan pernah takut susah dan sulit menekuni dunia Wartawan, sepanjang untuk Kebenaran Tuhan telah menjanjikan rezeki bagi setiap hamba ciptaannya yang cukup.

Yang datangnya dari arah dan waktu yang tak terduga. Maka bertebar kamu dimuka bumi Usaha, setelah Sholat Shubuh akanku beri rezeki. Dan itu “janji tuhan dan perintahnya”

Himbauan ini, jika banyak pihak tidak sependapat, itu wajar saja dan saya hormat, dan mengatakan Allhamdulillah.(***).

Kisah Singkat Jurnalis Gudi Podcast Kemenag Rejang Lebong

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org