Wartawan Pengungkap Fakta, Pekerja Seni Dan Penyampai Informasi

Jadi Warawan atau Jurnalist, harus kita akui memang tidak mudah jika bukan panggilan hati nurani, sama dengan pekerjaan atau profesi lainnya. Hanya panggilan hati yang ikhlas pekerjaan Wartawan akan terasa enak dilakukan.

Karena membangun keterbukaan sangat sulit, tidak semua orang suka kebaikkannya diungkapkan pada publik, apa lagi keburukkannya (dalam berita social kontrol). Maka Wartawan juga harus siap dikritik, atas berita yang diturunkannya (pubblist), untuk membangun Kemerdekaan Pers yang independen, bebas dan bertanggungjawab.

Kata kalimat Jurnalist, sama dengan jurnal atau catatan. Dimulai dari catatan dan info awal yang didapatkan oleh seorang calon Jurnalist/ jurnalist dicatat, ditelusuri (chek and richek), tidak hanya menerima secara sepihak dan harus balaency (berimbang), dan tidak menghakimi (membuat kesimpulan). Sebuah kasus (masalah) yang terjadi dalam suatu peristiwa.

Sepanjang kasus itu, belum diuji dipengadilan negeri oleh para majelis Hakim yang muliya. Kesimpulan yang ditulis Wartawan hanya keputusan majelis Hakim yang telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkrah).

Prinsipnya apa yang ditulis Wartawan, hanya merekonstruksi ulang dari sebuah kejadian, (peristiwa). Sistem kinerja Wartawan atau para Jurnalist adalah penggabungan fakta yang terjadi, dengan seni penulisan dalam Jurnalist. Maka tak heran Wartawan, juga disebut pekerja Seni.

Informasi yang dicatat dari sumber awal, harus di chek kebenarannya. Dengan melakukan Investigasi Reporting penyelidikkan kelapangan, bukan untuk prodak hukum, melainkan untuk menjawab informasi yang berkembang, jika terjadi kesimpang siuran informasi, dari mulut kemulut, apa lagi yang telah diberitakan banyak media.

Guna menjawab kesimpangsiuran itulah, maka chek and richek (investigasi reporting) harus dilakukan Wartawan secara jujur dan bertanggungjawab, untuk kepentingan publik.

Dan tidak sekali-kali kepentingan pribadi atau kelompok, apa lagi pesanan dari pihak tertentu. Menulis berita untuk yang bayar, disinilah kesulitan besar bagi Wartawan akan diuji untuk mengatasi diri sendiri, (akal/ fikiran) dan nafsu terlebih dahulu. Karena akal/ fikiran dan nafsu sangat mudah berbohong, terkecuali ‘’kata hati dan jiwa yang bersih’’

Jika boleh meminjam istilah orang bijak, ‘’kita harus benar dulu sebelum mencari kebenaran itu?’’ Dan Katakanlah yang benar itu tetap benar sekalipun pahit.

Wartawan disuatu ketika, (saat tertentu), akan berhadapan dengan banyak hal yang sangat menggoda, ‘’uang/harta, wanita, Keluarga, tekanan, dan ancaman’’ pihak tertentu untuk tidak menuliskan suatu berita kebenaran. Malah ditawarkan untuk menuliskan pembenaran sepihak, bagi kepentingan pihak tertentu, kelompok, lembaga yang diberi imbalan folus menggiurkan.

Dan sama halnya dengan profesi-profesi (pekerjaan) lainnya, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat, Polisi, Jaksa dan bahkan Hakim, karena profesi tersebut berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat luas, baik sebagai individu, kelompok dan kelembagaan tertentu.

Disinilah, kejujuran dan keberanian seorang Wartawan akan diuji. Penulis sendiri telah merasakan beratnya ujian tersebut. Untuk ‘’mengatakan yang benar, menjadi salah dan membenarkan yang salah’’ sangat sulit untuk dijawab. Sebagai Wartawan (Jurnalist) Independen, ‘’katakanlah yang benar itu tetap benar, sekalipun pahit’’ kendati dibawah tekanan sekalipun.

Tak heran banyak Wartawan yang terancam, yang berani menulis secara lantang (jelas), ancaman itu baik yang diketahuinya maupun tidak.

Maka Wartawan harus mampu menggunakan daya lihat, daya dengar, daya cium, daya rasa, secara lantang dan jujur melihat peristiwa.

Sudah jujur sekalipun terkadang, banyak pihak merasa dirugikan, karena kepentingannya terganggu. Seperti para oknum perampok uang Negara, penyalahgunaan wewenang, Suap menyuap dan lain sebagainya.

Wartawan sebagai penyampai informasi sesuai dengan tugasnya, menyampaikan informasi tentang Pembangunan disegala sector, Budaya, sastra dan hiburan, ketiga melakukan tugas Sosial Kontrol (Kontrol Sosial).

Tugas ketiga ini yang kurang disenangi bahkan tidak disenangi para perampok-perampok berdasi itu. Karena, ‘’kedok kejahatannya bisa terungkap kepublik’’ dan terendus terbuka secara umum, infonya cepat ditangkap aparat penegak Hukum. Maka aktivitas, para oknum perampok berdasi, dan penyalahgunaan wewenang itu,  akan lebih terganggu.

Apa lagi mereka akan berhadapan dengan penyidik yang handal dan tangguh, dan menolak duit suap. Para perampok itu akan tetap berusaha mencari jalan pembenaran, dan melawan kebenaran dengan berbagai cara dan dalih, agar selamat dari ancaman hukuman, berat, sedang dan ringan?.

Namun, dinegeri ini ‘’yang kental dengan urusan suap menyuap, untuk bebas dari jangkauan hukum’’ kita tak perlu pesimistis, masih banyak aparat kita yang jujur dan professional dalam mengungkap tindak pidana korupsi, sampai pelakunya dibuikan.

Namun dilain sisi, harus kita akui banyak kasus dugaan korupsi yang tak jelas penyelesaiannya?. Itu hanya tindakkan para oknum saja, bukan lembaganya. Karena secara kelembagaan, mereka ada dan hadir untuk mengusut setiap pelanggaran hukum atas nama Negara diatur oleh UU dan ketentuan berlaku.

Disinilah kejelian para Wartawan professional, melihat, membaca dan mendalami masalah yang berkembang dan menyampaikan informasi pada public, sebagai hak mereka untuk mengetahuinya. (***), bersambung…..pada bagian lain.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org