CERDAS MENGELOLA EMOSI ANAK

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Oleh Nelly Tridinanti, M.Psi., Psikolog

Setiap anak yang lahir akan berkembang baik dari segi kognitif, fisik, sosial dan emosi hingga nantinya akan berpengaruhi karakter yang kuat dalam dirinya. Pembentukan karakter tidaklepas dari perkembangan emosi yang terus berkembang sesuai dengan apa yang di rasakan dalam setiap prosesnya. Perkembangan emosional adalah ungkapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari (Suyadi, 2010:104).

Pola perkembangan emosi anak sebenarnya telah ada sejak lahir atau bayi, namun seiring bertambahnya usia anak, perkembangan emosinya akan tergantung dari interaksinya dengan orang lain. Menurut Hurlock (Suyadi, 2009:105) Gejala emosi pertama yang muncul adalah keterangsangan yang umum terhadap stimulus atau rangsangan yang kuat.

Mengelola emosi anak sejak dini sangat penting karena akan mempengaruhi perkembangannya saat dewasa. Sebagai orang tua pentingnya mengajarkan anak untuk dapat mengelola emosinya dalam menghadapi situasi atau peristiwa yang di hadapi anak.

Anak yang tidak diajarkan cara mengelola emosi akan dapat menyebabkan berbagai permasalahan bagi perkembangan perilaku anak, seperti Anak suka berkelahi, melakukan perundungan/pembullyan, mudah terpancing emosi dan kemarahan yang sulit dikendalikan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pentingnya mengajarkan anak untuk mengelola emosinya. Cara cerdas mengelola emosi anak di mulai dengan mengubah cara komunikasi orang tua pada anak.

Berikut 6 cara berkomunikasi yang baik pada anak :

1. Melarang anak

Pada saat melarang anak, beri penjelasan pada anak supaya anak tau, kapan, dimana, apa, dan pada saat apa perilaku tersebut boleh dan tidak boleh dilakukan. Jika memang terpaksa harus menggunakan kalimat larangan, maka sebaiknya diganti dengan kalimat positif.


Contoh : “ jangan takut ya!” bisa diganti dengan “ kamu anak yang pemberani, ayo… dicoba lagi !

2. Membandingkan anak dengan anak lain

Banyak orangtua yang berniat ingin memotivasi anak dengan cara membandingkan anak dengan orang lain, akantetapi malah membuat anak menjadi rendah diri dan menjadi tidak percaya diri. Setiap anak adalah unik dan tak terbandingkan satu dengan yang lainnya. Mereka memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ganti kalimat yang lebih positif untuk memotivasi anak.

Contoh : “Teman-temanmu nilainya lebih tinggi dari pada kamu” bisa diganti dengan kalimat “Nilaimu lebih baik dari minggu lalu, teruskan usahamu ya”

3. Mendengarkan perasaan anak

Ajarkan anak mengungkap perasaannya, saat anak menangis dengarkan apa yang sedang anak rasakan, terima perasaan anak. Hindari menghakimi dan menyalahkan perasaan anak, tetapi lebih cenderung menerima, memaafkan dan memahami.


Anak yang tidak di ajarkan mengungkapkan perasaan akan cenderung sering berteriak, memukul, menendang saat marah. Mereka melakukan karena tidak tau bagaimana cara mengekspresikan kemarahan secara verbal. Ajarkan anak mengungkapkan penyebab kemarahannya.

Contoh : Ada apa nak? Kamu marah? Iya, Ibu tau kamu marah, ceritakan pada ibu apa yang kamu rasakan” saat kita mau mendengarkan perasaan anak, maka anak akan merasa penting, berharga dan merasa di pedulikan oleh orangtuanya. Anak akan memiliki pengalaman yang menyenangkan bahkan anak juga akan belajar mendengarkan perasaan orang lain.

4. Ucapan dan perilaku orang tua

Orangtua adalah lingkungan terdekat anak. Perilaku orangtua sangat mempengaruhi perkembangan emosional anak. Perilaku orangtua sangat mudah dicontoh oleh anak, oleh karena itu, jika ingin anak dapat mengelola emosi anak dengan baik, maka orangtua harus memperlihatkan bahwa dirinya dapat mengelola emosi dengan baik juga.

5. Ajarkan anak menenangkan diri

Saat anak sedang marah hindari bereaksi untuk menegur atau bahakanmemarahnya kembali, hal tersebut akan semakin memicu kemarahannya. Beri mereka waktu sejenak agar merasa lebih tenang. Bawa anak ketempat yang tenang, jauh dari apa yang menyebabkan kemarahannya.

Akan tetapi jika anak justru agresif dan bersikap kasar, hentikan mereka segera. Buatlah anak duduk diam selama satu atau dua menit untuk mendinginkan pikirannya. Ajak anak untuk latihan pernafasan lalu bicarakan dengan baik-baik pada anak solusi untuk menyelesaikanpermasalahan yang membuat anak marah.

6. Beri pujian pada anak

Memberi pujian atau menyanjung anak ketika anak melakukan halbaik mungkin terlihat sederhana, namun ada banyak sekali manfaat memuji anak, terutama membentuk karakter anak. Sekecil apapun pencapaian anak, orangtua haruslah merespon dengan positif pencapaiannya.

Memberi pujian akan membuat anak lebih percaya diri dan lebih bersemangat. Ungkapkan pujian dengan spesifik, sehingga anak tau bahwa ibunya benar-benar memperhatikan setiap detail perilakunya. Saat memberi pujian lakukan kontak mata, bila perlu sentuhan lembut pada anak.

Cara berkomunikasi orangtua pada anak memiliki pengaruh yang sangat besar pada perkembangan emosional anak/ pengelolaan emosi anak. Dalam proses komunikasi tersebut anak akan belajar dan mengenal dirinya dan orang lain.

Pola komunikasi yang baik akan membentuk pola emosi yang baik pula, sehingga anak akan lebih mampu memberikan respon emosi yang positif pada stimulus/peristiwa yang di alaminya. (*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org