Lebih Baik Jadi Pemborong, Dari Pada Jadi Wartawan Menggandakan Profesinya?

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

KERINCI, BEO.CO.IDPilihan pekerjaan sebagai pemborong (kontraktor) lebih baik, karena pengabdian untuk kepentingan umum (khayak luas), yang penting dalam bekerja tetap professional, hasilnya (memberi azasmanfaat) atas apa yang diborongnya.

Karena kontraktor (pemborong) adalah salah satu pelaku pembangunan, untuk kepentingan yang lebih besar.

Misalnya ikut memborong SPAM (Sistem Pengadaan Air Minum), sarana fisik Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan lain sebagainya.

Bangunan apa saja, seperti Jalan Usaha Tani (JUT), Irigasi desa bersama kelompok tani dan lain-lainnya. Baik bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) APBN, atau APBD (Dana Alokasi Umum), boleh saja.

Dari pada jadi Wartawan. Masih adanya oknum Wartawan yang menggandakan profesinya, ‘’kadang jadi pemborong/ kontraktor, kadang jadi Wartawan’’

Terkesan ironis ketika tidak dapat kontrak (borongan), kembali menjadi Wartwan, dan bergerak mengusik dinas tertentu, karena tidak dapat borongan.

Jika ini benar terjadi, sebagaimana bocoran dari salah satu  LSM yang menyampaikan pada redaksi media ini via sambungan telephone jarak jauh, malam tadi Rabu (9/11/2022) sekitar pukul 22: 15 WIB, mengatakan di Kerinci, saat ini ada oknum Wartawan sebut saja namanya M.Geh Senior, (nama samaran)  lagi mengerjakan salah satu gedung bangunan untuk sarana pendidikan.

Menurut sumber dari salah satu anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang minta identitasnya buat sementara waktu dilindungi, menegaskan ‘’kita tidak benci terhadap oknum tersebut’’ ujarnya.

Itu juga kawan kita (kanti kito dalam bahasa Kerinci), namun ada kesulitan, saat di chek kelapangan ada pelarangan secara tidak langsung, ‘’tak usah lihat-lihat bangunan itu, lebih baik kita Ngopi dan makan bersama’’ akhirnya kami ngopi bersama disebuah Kedai di ‘’Kayu Aro’’ Kerinci.

Ditegaskan sumber dari LSM itu, memang sulit dibuktikan hitam diatas putih, bahwa M. Geh Senior, menanda tangani kontrak kerja pada perusahaan yang digunakannya, artinya ‘’tidak ada oknum Wartawan yang memborong, hanya pengakuan lisan.’’

Namun menurut sumber dari kalangan LSM itu, yakin itu melibatkan oknum Wartawan, karena yang bersangkutan melarang saya melihat pekerjaan langsung dilokasi bangunan itu, ujarnya.

Ini sekedar mengingatkan, jelas sumber kompeten itu. Kita berharap bangunan yang dikerjakan itu, berjalan dengan baik, dan item-item yang dikerjakan itu, tepat hitungan, tepat guna, tepat waktu dan bermanfaat.

Jika sampai bermasalah, suka tidak suka akan terungkap kepermukaan siapa oknum Wartawan yang terlibat itu?.

Demikian juga jika terjadi dikalangan oknum LSM, yang nota benenya pengawas/ pengontrol dan pemantau jalannya proses pembangunan ditanah air kita ini, termasuk Kerinci, Jambi.

Dari keterangan dan data dihimpun BEO.co.id, oknum Wartawan yang disebut abal-abal, kadang jadi Wartawan, kadang jadi pemborong, tidak saja dugaan terjadi di Propinsi Jambi, penggandaan profesi juga sering terjadi di Propinsi Bengkulu, bahkan tiga tahun silam ada oknum Wartawan yang melarikan diri dari Kota Curup, karena meninggalkan kegiatan proyek fisik (pemborongan) dan terlilit hutang, pinjaman ‘’uang panas’’ berbunga tinggi hingga kini masih tetap dicari oleh pihak yang merasa dirugikan.

Jika disimak dan dipelajari secara detail, fungsi dan tugas Pers, (Wartawan/ Jurnalist), tidak bisa menggandakan profesinya, ‘’kadang jadi wartawan, kadang memborong/ kontraktor), karena bertentangan dengan amanat UU No.40 tahun 1999 tentang Pers, dan 11 Point Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Dari pada bermasalah dan bertentangan, dengan tugas yang dimanatkan UU No.40 tahun 1999 itu, lebih baik meninggalkan salah satu pekerjaan itu.

Dalam kehidupan ini, harus ada pilihan. Hidup ini pilihan, memilih tetap jadi Wartawan dengan segala resiko dan konsekuensinya, dan atau memilih menjadi Diretur Perusahaan yang resmi bergerak di pengadaan jasa konstruksi, dengan mengikuti aturan UU dan ketentuan berlaku diperusahaan kontraktor, sesuai dengan kualifikasi perusahaannya.

Misalnya bidang Jalan (Bina Marga), Pengairan (SDA), Sumber Daya Air, Bangunan Gedung dan lain sebagainya, kalau menggandakan profesi, ‘’sangat tidak baik’’ jika terjadi dugaan korupsi, otomatis oknum Wartawan yang terlibat didalamnya, tidak akan berani memberitakan apa adanya.

Dan jika kasusnya berhasil diselidiki (Lid) oleh aparat penegak Hukum berwenang, dan ditingkatkan menjadi Dik (penyidikan), tidak perduli oknum Wartawan, tetap akan diperiksa sama dengan pelaku lainnya. Otomatis, masyarakat awam menilai ‘’seolah-olah Wartawan mau enaknya saja, padahal itu perbuatan oknum, bukan kebijakkan lembaga Persnya’

Solusi terbaik, pilihlah pekerjaan sesuai dengan hati nurani masing-masing dan jalankan dengan baik, agar bisa memberikan manfaat bagi kemaslahatan orang banyak.

Setiap usaha yang baik, jujur dan professional, tuhan yang maha kuasa (maha segalanya), akan memberi jalan rezeki yang baik pula.

Redaksi Media ini, menghimbau secara khusus pada Wartawan BEO.co.id & Koran BIDIK07ELANGOPOSISI, untuk tidak menggandakan profesi (pekerjaan Jurnalist), dengan melakukan pemborongan (kontraktor). Jika mau memborong, berhentilah (dan tinggalkan) profesi Wartawan, guna menjaga nama besar Pers Indonesia.

(BEO.co.id / +_ / gudi).

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org