spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BAITUL IKHLAS SUNGAI BATU GANTIH KERINCI, MASJID PERTAMA DARI KAYU

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Laporan : Ragandi Brusli Jurnalist BEO.co.id

Berkembangnya Islam di Desa Sungai Batu Gantih, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, (sekarang) awalnya melalui proses yang panjang dan berliku. Sampai berdirinya tempat ibadah diberi nama oleh para pendirinya, Masjid Baitul Ikhlas, diera perkembangan pembangunan berubah nama menjadi Baitul Al-Amin?.

Ajaran Islam masuk ke Sungai Batu Gantih, jauh sebelum Indonesia merdeka melalui para tokoh penyebarnya, antara lain Syekh Siak Jelir dari Siulak, Kecamatan Siulak (Sekarang).

Namun disayangkan sejumlah tokoh agama yang masih hidup saat ini, belum dapat mengingat tahun dan tanggal masuknya pertama kali Islam ke Sungai Batu Gantih. Mereka hanya ingat dan batas memperkirakannya.

Bisa jadi, sudah dicatatkan oleh para pembawa ajaran Islam, bisa juga tidak, seperti dijelaskan Abu Khasim Bin Abu Bakar ‘’bergelar Syekh Bahaudin.’’

Menurut Abu Khasim, 85 tahun yang juga tokoh Islam dan masyarakat Desa Sungai Batu Gantih, dihubungi Jurnalist BEO.co.id pertengahan Nopember lalu mengatakan, ‘’sebelum Indonesia Merdeka Islam sudah ada di Sungai Batu Gantih, yang dibawa Syekh Siak Jelir dari Sulak (Siulak). Itu yang kita dapatkan ceritanya dari para pendahulu kita, ujarnya.

Dan Islam lebih dahulu berkembang di Sungai Penuh, (Kota Sungai Penuh) sekarang, karena penduduknya sudah banyak dari berbagai Dusun (desa) sekitarnya dan perantau dari Ranah Minang (Minang Kabau), diperkirakan Islam masuk pertama kali sekitar abad ke 14 masehi dan terlebih dahulu berkembangnya di Kerinci bagian Hilir (Kerinci Hilir), salah satu buktinya banyaknya orang Kerinci belajar Agma ke Seleman, Tanjung Pauh, Pulau Tengah, Rawang dan Sungai Penuh.

Dan berkembangnya ajaran Islam di Sungai Batu Gantih, dimasa Imam besar Gerak Alam Bin Two Tuhan (Two Gaek Titin), bernama Asli ‘’Mat Tanyo Bin Mat Tuek’’ ayah kandung dari Gerak Alam, sehari-harinya lebih dikenal oleh masyarakat Sungai Batu Gantih, Imam Ayat, (Nyantan Ayat). Ayah kandung dari Zukri (alm), bukan Nyantan (Datuknya), sebagaimana tertulis dalam laporan sebelumnya, kekeliruan telah diperbaiki, dan mohon maaf.

Yang benar Gerak Alam, salah satu disebut Imam besar di Sungai Batu Gantih, pada masanya.

Gerak Alam juga bergelar Depati Mangku Bumi, keturunan gelar pusako/ pusaka (Sko) dari Siulak Panjang, Kerinci.

Jadi Gerak Alam Depati Mangku Bumi, anak kandung dari Mat Tanyo Bin Mat Tuwik, kata Suardesi Bin Zukri.

Suardesi, dan juga Kepala Desa Sungai Batu Gantih, saat ini adalah cucu dari Gerak Alam (Nyantan Ayat). Disampaikannya dalam klarifikasi tertulis Vis WA nya pada redaksi BEO.co.id.

Masuknya Islam ke Sungai Batu Gantih, tergolong baru jika dibandingkan dengan desa-desa (dusun) lain dalam wilayah Kerinci, (saat itu).

Sebagaimana dijelaskan dalam laporan sebelumnya, Islam masuk Kerinci lewat Solok, Kabupaten Solok Selatan sekarang, abad ke 14 masehi dari Minangkabau, kata Abu Khasim.

BACA JUGA :  INDRA, KETUA LSM PETISI SAKTI : KASUS & KONI KERINCI, BERJUANG DALAM MENUNGGU

Dan diperkirakan masuknya ke Desa (Dusun) Sungai Batu Gantih tahun 1935, seiring dibuka (ditebasnya) hutan oleh warga dari Siulak (Sulak). Dimotori (digerakan) oleh H. Umar, ayah dari Drs. Muhammad Awal, mantan Bupati Kerinci.

Seiring dibukanya hutan menjadi Ladang, dan berkembang menjadi Talang (Dusun) dan masuknya ajaran Islam dan berkembang active bersamaan berkembangnya Tarekat Saman dan ajaran Fiqih Imam Syafi,I serta akidah Asyari, yakni Pengajian Sifat Dua Puluh (20).

Dan seiring berjalannya kajian Tembo Adat Sakti, sekitar tahun 1940-an yang dibawa Gerak Alam Bin Mat Tanyo (Two Gaek Titin) dan Mansyar, keduanya merupakan Imam Besar di Sungai Batu Gantih (saat itu).

Dan kajian adatnya dibawa oleh Two Gaek Sungayie (Datuk/ Nyantan) Amir. Ayah dari Pak Tait, (Datuk/ Nyantan Jamarieh).

Dan imam lainnya mereka bahu membahu dan kompak mengembangkan Islam di Dusun Sungai Batu Gantih.

Dan pengembangannya semakin kuat, dengan tiga Imam, ‘’Gerak Alam, Mat Sti dan Mat Senang, juga imam waktu itu.

Dusun Sungai Batu Gantih, termasuk besar dan pesat perkembangannya, berkembang terus menjadi Dusun Baru, hingga saat ini dengan Imamnya Mat Seliman, (saat itu) Datuk (Nyantan) dari Driakim dan keterunannya berkembang biak hingga kini, (sebagai generasi penerus)nya.

Sejak masuknya Islam ke Sungai Batu Gantih, khusus Sholat Jum,at adzan dilakukan dua kali dan Shubuh dilakukan adzan satu kali. Namun banyak juga Imam Islam masa kini yang berpendapat lain.

Senin sore dua pekan silam, Wartawan BEO.co.id, menghubungi dan meminta keterangan dari salah satu generasi penerus saat ini, ‘’Buya Baharman.’’ Ketika ditanyakan siapa tuan guru pertama di Desa Sungai Batu Gantih, Baharman menjawab tidak tahu?.

Dan uniknya ditanya siapa nama orang tua beliau (ayah), juga tidak tahu. Dan ketika ditanyakan Adzan dimasa Imam besar untuk Sholat hari Jum,at berapa kali, penjelasannya satu kali.

Padahal kebiasaan Adzan setiap hari Jum,at di Desa Sungai Batu Gantih dilakukan dua kali, ini juga dibenarkan Abu Khasim Bin Abu Bakar alias Syekh Bahaudin.

Dan Masjidnya bernama Masjid Baitul Ikhlas didirikan para tokoh Agma Islam (para Imam) bersama masyarakat Adat, dan para tokoh masyarakat lainnya, dibangun pertama kali sekitar tahun 1940, (lima tahun menjelang Indonesia Merdeka) yang di Proklamirkan oleh Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia.

Dan Masjid dari kayu itu, sempat dofoto namun tahun dan tanggal pemotretan belum diketahui?.

Entah alasan apa, berjalannya waktu dan berkembangnya ajaran Islam dan pembangunan di Desa Sungai Batu Gantih, pada tahun 1990 silam, nama Masjid Baitul Ikhlas yang terbuat dari kayu pada masa pembangunan pertama 1940 hanya disebut ‘’Surau’’ (belum ada namanya).

Lalu pada pembangunan kedua baru diberi nama Baitul Ikhlas. Dan pembangunan selanjutnya sesuai tuntutan zaman dan perkembangan masyarakat dan perkembangan Islam Masjid Baitul Ikhlas, seiring perubahan bangunan secara fisik diubah namanya oleh Noermis Depati Intan Bin H. Abdul Hamid, (Ayah Sareng), mantan Kepala Desa Sungai Batu Gantih.

BACA JUGA :  INDRA, KETUA LSM PETISI SAKTI : KASUS & KONI KERINCI, BERJUANG DALAM MENUNGGU

Kabarnya perubahan nama itu, bukan kehendak Noermis Bin H Abdul Hamid semata (pribadi), juga melalui unsur musyawarah dengan para tokoh masyarakat lainnya.

Kendati suara minor (miring) dari masyarakat menyayangkan perubahan nama dari Baitul Ikhlas ke Baitul Al-Amin (sekarang). Karena banyak perubahan lainnya terjadi?.

Seiring berkembangnya kemajuan penganut ajaran Islam, maka bermunculan nama-nama Imam baru dieranya, antara lain ‘’Buya Badu Rajo Indah Liko Karao’’ dan sejumlah nama lainnya, yang belum diuraikan dalam laporan ini.

Dari pengamatan dan keterangan dihimpun redaksi media ini, sejarah perkembangan Islam pada masa lalu jangan dilupakan, apalagi diabaikan oleh generasi terkini.

Jika terjadi perbedaan pandangan, bukan melakukan debat kusir tanpa solusi, harus diuji kebenarannya, lain tuan guru lain pula cara penyampaiannya.

Namun, kebenaran jangan diubah menjadi penyesatan. Bak seperti masak Nasi dan lainnya boleh saja ada perbedaannya, namun tak boleh nasi masak dan atau tidak masak, peruknya dirusak. Soal budaya (cara) menyampaikan boleh berbeda tapi tujuannya tetap pada Allah yang satu.

Untuk memahami lebih jauh (dalam), kita harus tahu dulu siapa kita, dengan kata lain ‘’orang yang tahu siapa dirinya dia akan tahu siapa tuhannya’’ maka perintah pertama yang diturunkan Allah SWT, pada junjungan besar Nabi kita Muhammad SAW, saat meminta petunjuk dalam Gua hirak dengan surat pertama diturunkan, Surat Iqrakh dan seterusnya (bacalah) hai Muhammad atas nama tuhanmu.

Perintahnya membaca, bukan selamatkan hartamu dan bukan pula kepentinganmu, artinya kamu wajib tahu siapa tuhanmu. Bagi orang yang tahu siapa dirinya insyaallah iya akan tahu siapa tuhannya. Yang maha segalanya adalah Allah SWT yang satu, bukan yang lainnya.

Jika ada perbedaan pada tahap belajar dan perkembangan dalam mempelajarinya, maka harus dengan kejujuran dan ilmu, diatas perintah bacalah.

Dengan kata lain kamu harus tahu siapa dirimu, baru kamu bisa tahu siapa tuhanmu. Hanya Allah SWT, yang maha mengerti dan maha tahu akan segalanya. Selebihnya rangka (kerangka).

Jadi perbedaan pandangan bisa terjadi kapan dan dimana saja, karena orang (manusia), dikuasai akal/ fikiran dan nafsu yang seringkali berbohong.

Manusia tidak ada yang sempurna. Jika masing-masing pendapat mau benar sendiri, itulah cara yang tidak benar.

Sesuatu pendapat boleh saja dikedepankan, tapi untuk mencari kebenarannya harus diuji secara benar pula. Bukan perbedaan pendapat, ‘’menjadi permusuhan’’

Karena petunjuk yang diajarkan Islam berdasarkan kitab Suci Al quran, tidak satupun manusia boleh mengubahnya itu sudah final dari Allah SWT (allah) yang satu dan tidak ada duanya. (***).

Editor dan Penanggungjawab : Gafar Uyub Depati Intan.

Kisah Singkat Jurnalis Gudi Podcast Kemenag Rejang Lebong

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Headlines

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts

https://situs-toto.togel.togetherband.org